Tampilkan postingan dengan label Artikel dari FNMPP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel dari FNMPP. Tampilkan semua postingan

April 22, 2009

PERNYATAAN UMUM DIBALIK PENYERANGAN MAPOLSEK


KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT(WEST PAPUA NATIONAL COMMITEE)
E-Mail : papuaemergency@yahoo.com,Blogsite : http://wptoday.wordpress.com,
Mobile :+6281248365281
________________________________________________________________________PERNYATAAN UMUM DIBALIK PENYERANGAN MAPOLSEKABEPURA & PEMBAKARAN KAMPUS UNCEN

I. Penyerangan di Mapolsek Abepura dan Pembakaran Kampus Uncen murni dilakukan oleh rakyat bangsa Papua Barat.
II. Aksi itu tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan segelintir orang dalam kekuasaan negara Republik Indonesia, Partai Politik, Militer RI, Elit Lokal.
III. Latar belakang penyerangan terhadap Mapolsek Abepura dan Kampus Uncen adalah:
a. Konflik Politik Papua Vs Jakarta. Jakarta belum mempunyai kemauan politik dalam menyelesaikan akar persoalan Papua Barat secara damai dan bermartabat. Sebaliknya, Jakarta terus menerapkan kekerasan struktural dibumi Papua Barat. Rakyat Papua Barat mengalami kondisi penindasan dan penjajahan yang maha dasyat. Kebijakan Otonomi Khusus, Pemekaran, dll justru menambah masalah. Pembunuhan terhadap Manusia Papua Barat, Pencurian sumber daya alam Papua, pendropan pendatang yang semakin membludak di hampir seluruh pelosok wilayah Papua Barat.
b. Pemilu 2009 Bukan Pemilu orang Papua Barat. Banyak orang Papua Barat yakin bahwa mereka bukan warga negara Indonesia. Mereka juga yakin bahwa wilayah Papua Barat bukan merupakan bagian yang sah dalam kekuasaan negara Republik Indonesia. Sebagian yang lain kecewa karena calon legislative dan pemilih tetap dikuasai oleh para pendatang yang mana tidak sesuai dengan semangat Otonomi Khusus di Papua Barat. Rakyat Papua Barat telah mapan dalam menilai identitas dan dimana ideologi mereka bertumpu. Atas dasar itu reaksi penyerangan atau aksi-aksi spontan yang ditujukan kepada gedung KPU, dan aksi-aksi emosional yang lain harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Ini bagian dari percikan api yang membara di atas wilayah Papua Barat. Pemilu bukanlah solusi dalam penyelesaian masalah Papua Barat.
c. Reaksi Emosional. Binatangpun tidak akan menerima penindasan dan penjajahan maha dasyat yang dilakukan oleh kekuasaan Indonesia di Papua Barat. TNI dan Kepolisian Indonesia sudah sangat buruk dalam memperlakukan kemanusiaan Papua. Aksi Damai dibalas dengan peluru. Banyak aktivis ditahan hanya karena melakukan aksi damai menuntut hak politik mereka. Polda Papua belum mengungkap pelaku pembunuhan Opinus Tabuni yang ditembak oleh oknum TNI/POLRI pada 9 Agustus 2008 di Sinapuk Wamena. Polisi membongkar tenda rakyat diatas makam alm. Theys H. Eluay, pembongkaran tenda dan penembakan terhadap 6 peserta demo damai di Nabire. Penyerangan terhadap rektorat Universitas Uncen Waena, Jayapura dilatarbelakangi oleh luka lama Mahasiswa akibat struktur kampus yang menghimpun para borjuis kampus yang tunduk kepada kekuasaan sambil menghilangkan hak dasar Mahasiswa, terutama mengenai otonomisasi kampus. Aksi emosional itu juga dilakukan karena terjadi diskriminasi kampus, khususnya Rektor Uncen yang menerapkan praktek sukuisme. Inilah yang melandasi rakyat Papua Barat secara emosional melakukan penyerangan terhadap Polsek Abepura dan Kampus Uncen. Lantas siapa yang bersalah? Ya pemerintah RI yang memancing terjadinya konflik di Papua Barat.
SERUAN DAN TUNTUTAN RAKYAT PAPUA BARAT :
1. Hentikan aktivitas kekuasaan negara Republik Indonesia di wilayah Papua Barat.
2. Pemilu 2009 di wilayah Papua Barat bukan solusi penyelesaian masalah.
3. Hentikan pendekatan militerisme dalam penyelesaian masalah Papua Barat.
4. Segera lakukan referendum untuk menyelesaikan status politik bangsa dan wilayah Papua Barat.
Demikian seruan dan tuntutan ini kami buat, atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.
Port Numbay, 13 April 2009
Hormat kami,Victor F. YeimoKetua

April 12, 2009

Kenaikan Permukaan Air Laut Akibat Pemanasan Global : Ancaman Serius Bagi Wilayah Pesisir Kita


Oleh : Thomas F. Pattiasina*

Pemanasan global telah menjadi masalah dunia dan menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi.Pemanasan global pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan suhu pada lapisan atmosfer, air laut dan daratan. Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan kayu, batubara, minyak, gas dan gasoline telah menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (gas rumah kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Hal ini menyebabkan radiasi yang dipantulkan bumi terhambat sehingga radiasi terakumulasi di atmosfer yang mengakibatkan suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi dan laut meningkat. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), yaitu suatu badan yang dibentuk WMO (World Meteorological Organization) dan UNEP (The United Nation of Environment Program), suhu rata-rata bumi meningkat sekitar 5 oC (derajat Celcius) dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Laju kenaikan suhu bumi ini, bahkan mencapai rekor tertinggi pada 10 tahun terakhir. Peningkatan suhu permukaan bumi telah menyebabkan pemuaian air laut dan mencairnya salju-salju abadi yang pada gilirannya akan menyebabkan naiknya permukaan air laut (sea level rise) khususnya terhadap wilayah pesisir. IPCC mengindikasikan bahwa kenaikan muka air laut secara global telah mencapai 20-25 cm dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa skenario global terburuk adalah bahwa pada tahun 2100 nanti kenaikan muka air laut rata-rata mencapai 95 cm. Namun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya kecenderungan peningkatan muka air laut lebih cepat daripada proyeksi tersebut. Hal ini terutama disebabkan belum adanya upaya-upaya serius dan komitmen yang kuat dari masyarakat dunia untuk menangani masalah pemanasan global. Wilayah pesisir adalah daerah yang akan mengalami dampak buruk dari fenomena kenaikan muka air laut secara global ini. Secara umum, kenaikan muka air laut akan mengakibatkan dampak di wilayah pesisir sebagai berikut: meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, meluasnya intrusi air laut. Dampak lain adalah meningkatnya abrasi pantai, menurunnya kualitas air permukaan, berkurangnya lahan-lahan produktif di sektor pertanian, bekunya aktifitas-aktifitas industri dan bisnis yang diakibatkan oleh kerusakan/terganggunya infrastruktur. Disamping itu dampak serius lainnya adalah berkurangnya atau hilangnya pulau-pulau kecil. Terkait dengan hal ini, negara-negara maju yang kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Indonesia adalah salah satu dari negara-negara di Asia yang rentan terhadap dampak kenaikan muka air laut. Hasil kajian para ahli memperkirakan bahwa apabila diasumsikan tidak ada upaya adaptasi dan tidak terjadi perubahan jumlah populasi penduduk Indonesia, maka kenaikan muka air laut setinggi 1 meter saja dapat menyebabkan sekitar 2 juta orang harus mengungsi dari rumahnya. Berdasarkan hasil pemantauan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), kenaikan muka air laut di Indonesia rata-rata 5-10 milimeter per tahun. Kenaikan permukaan air laut 5-10 milimeter per tahun itu cukup kecil tetapi dalam hitungan waktu puluhan tahun akan banyak berarti dalam menimbulkan kerusakan lingkungan pesisir. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank, dampak kenaikan muka air laut dan banjir diperkirakan akan memberikan gangguan yang serius terhadap wilayah-wilayah seperti: Pantai Utara Jawa, bagian timur Sumatera, bagian Selatan Kalimantan, bagian Barat Daya Sulawesi, dan beberapa tempat pada pesisir Barat Papua seperti Kabupaten dan Kota Sorong, Teluk Bintuni dan Merauke. Dihadapkan dengan ancaman tersebut maka diperlukan usaha-usaha untuk mengurangi dampak dari masalah kenaikan muka air laut ini. Salah satu upaya penting yang dapat dilakukan adalah mengurangi masalah efek rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Beberapa aksi nyata yang dapat dilakukan antara lain: membudayakan gemar menanam pohon, mewajibkan penanaman kembali bibit pohon yang sama dengan jumlah yang lebih banyak setelah melakukan penebangan, tidak membuka lahan dengan cara membakar, hemat energi, penggunaan alat transportasi umum dan kendaraan yang berbahan bakar ramah lingkungan, dan mengurangi emisi gas buangan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengupayakan adanya sinergi antara kepentingan ekonomi dengan lingkungan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir. Selain upaya untuk mengurangi efek rumah kaca tersebut di atas, dalam rangka mengantisipasi ancaman penggenangan lahan oleh air laut akibat kenaikan muka air laut di wilayah pesisir, ada tiga alternatif yang dapat ditempuh, yaitu: pola perlindungan (protective), pola akomodatif (accommodative), dan pola mundur (retreat). Pola perlindungan (protective) adalah upaya untuk mitigasi dampak kenaikan muka air laut dengan cara membuat bangunan pantai atau merehabilitasi vegetasi pantai terutama mangrove yang bertujuan untuk melindungi pemukiman, daerah wisata, daerah industri, infrastruktur jalan dan lain-lain terhadap penggenangan oleh air laut. Pola akomodatif (accommodative) adalah upaya penyesuaian dengan kenaikan muka air laut dengan cara modifikasi model bangunan di wilayah pantai agar aman dari genangan air laut, terutama pada saat kondisi air pasang. Model bangunan yang dapat dikembangkan adalah model bangunan panggung. Disamping itu penyesuaian dalam pola penggunaan lahan dapat pula dilakukan. Sebagai contoh, misalnya lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian atau budidaya lainnya, dapat dikonversi menjadi lahan-lahan untuk budidaya perikanan. Pola yang terakhir adalah Pola Reatret, yaitu upaya untuk merelokasikan permukiman penduduk, industri dan daerah pertanian ke tempat lain yang lebih tinggi untuk menghindari penggenangan oleh air laut. Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global terjadi akibat kelalaian kita, manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam yang telah dianugerahkan kepada kita. Sekarang saatnya kita berkomitmen dan melakukan aksi nyata untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan dampaknya, demi untuk kehidupan yang lebih baik dan terutama demi masa depan generasi penerus kita. (*) Staf pengajar pada Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPPK) Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari
sumber : Tabloid Jubi

Penggerebekan Kantor Dewan Adat Papua, Pelecehan Terhadap Harga Diri Orang Asli Papua

Ket : Gambar (puing-puing pondok mahasiswa yang di bakar hingga rata dengan tanah dalam penggerebekan kantor DAP/foto:Jubi-Victor Mambor)
JUBI---Situasi disekitar Kantor Dewan Adat Papua (DAP) siang itu nampak mencekam. Situasi penuh ketakutan itu berawal dari dibakarnya sebuah pondok dan pengambilan sejumlah berkas dokumen DAP oleh puluhan polisi berseragam lengkap. Benarkah DAP adalah bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Atau hanya dikambinghitamkan oleh oknum tertentu ? Dari penggeledahan itu aparat kepolisian berhasil membakar sebuah Pondok karyawan yang terletak dibelakang kantor DAP. Peristiwa penggerebekan Kantor DAP di Kelurahan Heram, Distrik Heram, Kota Jayapura itu terjadi pada Jumat pekan kemarin sekitar pukul 11.00 WIT. Saat itu, petugas Direskrim Polda Papua berhasil menyita 2 senjata api laras pendek serta beberapa lembar bendera Bintang Kejora berukuran kecil. Lewat beberapa jam kemudian, Polda Papua kemudian menggelar sebuah jumpa pers terkait penggerebekan kantor DAP. Serasa dibakar jenggot dan difitnah, DAP kemudian menggelar jumpa pers serupa untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut. Namun sayangnya, gelar jumpa pers oleh DAP sudah terlambat. Kesan terhadap DAP telah dipaku kepada masyarakat bahwa lembaga ini telah menyimpan sejumlah dokumen berbahaya. Yang lebih disayangkan adalah tindakan aparat kepolisian yang menyita sejumlah berkas DAP yang sangat jauh dari kesan keterlibatan lembaga ini dengan OPM. Misalnya, pengrusakan terhadap fasilitas Kantor DAP dan pengambilan data yang tersimpan didalam hardisk komputer. Sejumlah laptop diduga juga turut raib dalam penggeledahan tersebut. Sekretaris Umum DAP, Leonard Imbiri, Konsultan Hukum DAP, Iwan Niode, SH serta Sekjen Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Indonesia (AMPTI), Markus Haluk kepada pers di Kantor DAP, Sabtu kemarin mengatakan penggerebekan tersebut tidak sesuai prosedur. Menurut Niode, pihaknya tidak setuju dengan pemberitaan sebuah stasius televisi nasional yang memberitakan saat terjadi penggerebekan Kantor DAP, aparat keamanan berhasil menciduk 15 orang yang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) serta menyita dua senjata api (senpi), 8 buah anak panah, 1 ikat bendera Bintang Kejora mini , 1 lembar daftar nama gerakan kembali ke tanah air dan 1 buah buku warna merah tentang struktur organisasi tentara revolusi Papua Barat. “Pemberitaan itu terlalu mengada-ada,” tegasnya.Dikatakan Niode, terkait penangkapan 15 mahasiswa yang dituduh sebagai anggota OPM, pihaknya membantahnya. Dikatakan, 15 mahasiswa yang berada di Kantor DAP saat peristiwa penggerebekan bukan sebagai anggota OPM. “Soal DAP sebagai markas OPM tidak benar karena mahasiswa tak pernah melakukan pelanggaran hukum. Mereka ada di Kantor DAP karena kantor tersebut adalah tempat masyarakat adat dan anak adat berhak berkumpul dan berdiskusi soal pembangunan di Papua sehingga tak perlu memberikan stigma separatis terhadap mereka,” kata Niode. Lebih lanjut, Niode menuturkan, penyitaan dan penggerebekan suatu tempat yang diduga menyimpan barang-barang yang dianggap berbahaya dan merugikan masyarakat semestinya memperlihatkan surat izin dari Pengadilan Negeri dengan menyertakan minimal dua orang saksi dari lembaga pemerintahan setempat. “Kalau tak ada saksi kita tak tahu apa yang dilakukan saat dilakukan penggerebekan,” katanyaDari peristiwa penggerebekan itu, ditaksir jumlah kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Peristiwa ini membuat sejumlah karyawan DAP yang sedang bekerja berhamburan keluar kantor. “Saya tidak bisa kasih informasi, nanti sudah,” ujar seorang karyawan DAP. Peristiwa penggeledahan ini memang berhasil mencuri perhatian warga yang bermukim di sekitar TKP. Sementara itu, Sekretaris Umum DAP, Leonard Imbiri mengatakan, peristiwa penggerebekan Kantor DAP berawal dari seorang wanita yang sedang berada di Kantor DAP. Tanpa sengaja wanita itu berjumpa seorang yang tak dikenal. Orang itu mengatakan agar segera mengamankan tas yang diletakan diatas meja karena sebentar lagi tempat ini akan digerebek. Saat masuk dan membuka tas, ternyata didalamnya telah ada dua buah senjata api. Imbiri menegaskan, peristiwa penggerebekan Kantor DAP merupakan keprihatinan terhadap pembangunan demokrasi di Indonesia dan kegagalan pemerintah sekarang dalam menangani pelbagai persoalan khususnya di Tanah Papua. Tindakan penggerebekan tersebut tak memberikan indikasi jelas kepemilikan senjata api (senpi). Hal ini, lanjut Imbiri, merupakan tindakan pelecehan terhadap masyarakat adat. Aparat keamanan juga, kata dia sebenarnya belum memiliki pemahaman tentang UU Otsus yang intinya memberikan perlindungan bagi orang asli Papua. “Ini merupakan suatu skenario untuk mencemari institusi masyarakat adat. Tetapi saya tak tahu siapa lembaga yang menjalankan skenario tersebut. Saya tak mau menuduh,” ujar Imbiri. Untuk itu, lanjut Imbiri, pihaknya meminta agar aparat keamanan bertanggung jawab terhadap seluruh dokumen DAP yang tak terkait tujuan penggerebekan tersebut segera dikembalikan.Tindakan Polisi Pasca penggeledahan kantor DAP, puluhan aparat keamanan langsung berjaga dengan senjata lengkap. Mulai dari depan Gapura Expo, Perumnas I, Waena hingga disekitar Kantor DAP. Tampak 2 truck Brimob Jayapura diparkir dan dikelilingi sejumlah polisi. Setelahnya, razia dan pemeriksaan pun digelar aparat secara kontinyu terhadap warga sipil. Dalam razia tersebut, polisi menyita sajam masing-masing satu ikat panah dan satu busur serta tali jubi. Uria Robert Keny, salah seorang mahasiswa yang diciduk saat penggerebekan Kantor DAP mengaku, beberapa saat pasca penggerebekan, 15 mahasiswa yang diduga anggota OPM tersebut diikat tangannya dengan tali rafia dan digiring untuk naik diatas kendaraan operasional milik Polda Papua. Ke-15 mahasiswa itu ditahan Polda Jayapura. Tindakan polisi tersebut tidak saja mendapat kritikan dari sejumlah pihak. Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Indonesia (AMPTI) bahkan mengecam tindakan itu sebagai pelecehan. Ketua AMPTI, Markus Haluk mengatakan, tindakan aparat keamanan dengan membakar honay (rumah adat Papua) merupakan pelecehan terhadap martabat rakyat Papua. Kantor DAP merupakan simbol harga diri, kultur, roh, alam semesta rakyat Papua. Sehingga pihaknya merasa sangat dilecehkan. ”Kalau ada indikasi tersimpan senpi kasitau secara manusiawi. Ini bukan kantor teroris. Peristiwa ini jangan terulang kembali. Harap ini yang pertama dan terakhir kali,” tutur Haluk. Senada halnya, Ketua DAP, Forkorus Yaboisembut menuturkan, penggerebekan tersebut merupakan sebuah rekayasa murahan yang sudah basi. Hal tersebut dilakukan untuk melakukan jebakan kepada DAP sebagai organisasi masyarakat yang vokal dengan pelanggaran-pelangaran HAM yang terjadi di Tanah Papua. Ujungnya, kevokalan tersebut dianggap berbahaya dan membuat Pemerintah Republik Indonesia menjadi takut.Menurut Forkorus, pihaknya juga telah melaporkan peristiwa penggerebekan Kantor DAP kepada Kedutaan Besar AS di Jakarta. Bahkan Forkorus mengaku, penggerebekan tersebut awalnya diketahui dari laporan Kedutaan Besar Negeri Paman Sam di Jakarta. “Saya ingin melihat keseriusan aparat penegak hukum untuk memproses hukum oknum mahasiswa yang sengaja menyimpan senjata api di Kantor DAP itu. Jalankan dan hormati hukum, jangan asal main hakim sendiri,” pungkasnya. (Yunus Paelo/Musa Abubar)


sumber : Tabloid jubi

April 08, 2009

Penggrebekan, penggeledahan, Penyergapan ataukah Sweeping ‘biasa?” (Bagian 2)


Intinya 14 orang tersebut dibebaskan, 2 diantaranya yakni Mariben Kogoya dan Dina Wanimbo dikenakan wajib lapor berkaitan dengan keberadaan 2 pistol dan barang–barang milik mereka juga akan dikembalikan. Empat belas Orang berikut tim PH dan LSM meninggalkan Polresta Jayapura sekitar pukul 11.30 WP tanggal 4 April 2009, menuju kantor ALDP, setelah dilakukan diskusi mengenai langkah-langkah ke depan, mereka diantar kembali ke kantor DAP, sedangkan Tim PH menuju Polda untuk mendampingi 3 orang lainnya. Sayangnya hari itu Polda Papua menggelar rapat antara Reskrim Polda, penyidik dan kapolda sehingga direncanakan untuk bertemu pada hari senin tanggal 6 April 2009. Pada pertemuan senin tanggal 6 April 2009 pembicaraan dilakukan berkaitan dengan persiapan pemeriksaan yang direncanakan tanggal 7 april 2009, pada jumat dan sabtu sebelumnya ketiga aktifis tersebut sudah juga diperiksa.Serafin Diaz, Musa Tabuni dan Yance Mote alias Amoye tetap ditahan sambil mengikuti proses penyidikan di Polda Papua. Yance Mote sebenarnya satu dari lima belas orang yang dibawa pada saat pegeledahan di Kantor DAP, akan tetapi dia tetap ditahan berkaitan dengan orasinya di tanggal 10 Maret 2009. Untuk Serafin Diaz nampaknya Polisi memiliki pertimbangan tersendiri sebab proses penyidikan terhadapnya kemungkinan akan difollow up di Jakarta, dengan kata lain Diaz akan dipindahkan ke Mabes Polri. Hal ini terkait dengan record Diaz di Mabes Polri atas keterlibatannya pada aksi massa di sejumlah tempat yakni di Jawa dan Bali. Setelah coba dikonfirmasikan keberadaan Diaz ke aktifis KNPB, ternyata tidak banyak yang mengetahui latar belakang aktifis asal Tomor Leste tersebut. Menurut pengakuan Diaz, saat ditemui di Polda tanggal 6 April 2009, Diaz datang ke Jayapura pada tanggal 19 Januari 2009 dari arah Surabaya, dia tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di Denpasar sejak 2002 dan mengenal serta bergabung dengan aktifis Papua yang kuliah di Jawa dan Bali sekitar tahun 2006. Begitu sampai di Jayapura Diaz yang dikenal dengan sebutan ‘Jenderal’ langsung menjadi salah satu orator demo di 10 Maret 2009, juga di depan pengadilan saat sidang Buktar. Kala itu beberapa orang teman yang melihat Diaz orasi di pengadilan sempat juga bertanya-tanya mengenai latar belakang aktifist tersebut. Keberadaan Diaz bagi sebagian orang mengingatkan pada sosok Maman, aktifis yang muncul pertama kali saat demo mogok makan di DPRP menyusul sidang kasus Abepura di Makasar. Lantas Maman mulai aktif dan terakhir terlihat waktu demo 16 Maret 2006, kemudian Maman menghilang. Serafin Diaz ditahan dengan SP.HAN/17/IV/09/DITRESKRIM, Musa Tabuni ditahan berdasarkan SP.HAN/18/IV/09/DIRESKRIM dan Yance Mote ditahan berdasarkan SP.HAN/19/IV/09/DIRESKRIM dengan tuduhan pasal 106 dan 160 KUHP, (Makar dan Penghasutan). Sore tanggal 4 april 2009, sekretaris DAP didampingi Iwan Niode SH dan aktifis KNPB melakukan jumpa pers untuk mengklarifikasi peristiwa dan pemberitaan tersebut. Sekretaris DAP, Leonard Imbiri dengan tegas mengatakan bahwa peristiwa penggeledahan itu menunjukkan proses penegakan hukum tidak dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku sebab dia tidak melihat adanya alasan yang jelas dari penggeledahan tersebut. DAP juga tidak memiliki program untuk memiliki senjata api dan dokumen resmi DAP adalah hasil-hasil sidang yang ditandatangani DAP, diluar itu bukan merupakan dokumen DAP. Saat di ruangan Kasatreskrim Polresta, bersama wartawan Cepos, Latifah Anum Siregar mengatakan ..’…berita di cepos harus diluruskan demi posisi dan kepentingan semua pihak..”Dia juga meminta pihak Polresta Jayapura menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Ketua DAP Forcorus Yaboisembut pada Cepos tanggal 6 April 2009, mengatakan bahwa penggrebekan Kantor DAP itu rekayasa dan jebakan. Karena DAP sebagai organisasi masyarakat yang vocal dengan pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua. ”Aksi seperti itu sudah basi karena DAP dianggap sebagai organisasi yang berbahaya bagi keutuhan Republik Indonesia..”. Forcorus juga meminta pihak Polda mengembalikan fasilitas dan barang-barang kantor DAP yang disita. ”Peralatan yang berbau pidana silahkan kamu tahan sebagai barang bukti dari para pemiliknya, sedangkan fasilitas kantor DAP segera dikembalikan..”. Kejadian tanggal 3 dan 4 April 2009 menimbulkan beberapa pertanyaan. kepemilikan 2 pistol yang masih misterius dan juga mengenai kejadian di Kantor DAP. Apakah itu pengerebekan, penggeledahan atau sweeping? Jika dikaitkan dengan peristiwa Pelabuhan dan tikungan Ale-ale, maka penggerebekan tentu harus menggunakan prosedur resmi yakni, dengan menunjukkan surat perintah Penggeledahan serta didampingi RT. Jika tidak ada hubungannya dengan kedua peristiwa sebelumnya, maka petimbangan seperti apa yang menjadi alasan kuat bagi aparat kepolisian untuk menuju ke kantor DAP mengikuti beberapa aktifis, lantas melakukan penggeledahan dan bukan sweeping biasa. Sebab kalau disebutkan sweeping tentu saja aktifitas dan dampak yang ditimbulkan tidak ‘separah’ seperti yang terlihat setelah mereka meninggalkan kantor DAP. Mereka merusak pintu – pintu ruangan yang terkunci, membongkar lemari, meja, mengambil hardisk, CPU bahkan motor milik penjaga kantor DAP. Jadi, apapun alasannya sweeping, penggeledahan atau penyergapan tetap harus diminta klarifikasi dan pertanggungjawabannya. Apalagi akibat yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut sangat merugikan posisi dan pencitraan DAP. Bahkan berita dari stasiun RCTI siang hari tanggal 4 April 2009 menyebutkan ada 17 orang anggota OPM ditangkap dan menyembunyikan senjata. Ataukah ini memang bagian dari scenario tersebut?. Hingga hari ini para aktifis KNPB kembali di kantor DAP. Sejak digusur dari makam Theys di Sentani, mereka menjadikan kantor DAP sebagai titik kumpul. Setiap harinya paling tidak ada sekitar 10 -15 orang yang berada di kantor tersebu. Pada malam hari jumlah mereka lebih banyak. Oleh DAP mereka diberikan hanya satu ruangan saja, selebihnya mereka menaruh barang-barang seperti ransel dan buku-buku di ruang tengah sedangkan ruangan lainnya dalam posisi terkunci. Mereka juga mendirikan tenda yang menempel pada halaman belakang kantor DAP. Sebelumnya daerah Expo, Waena dan sekitarnya memang sudah menjadi wilayah komunitas orang dari pegunungan yang sebagian besar menempati anjungan eks pameran. Keberadaan aktifis KNPB ditambah dengan maraknya kampanye dan pengerahan massa asal penggunungan, maka tidak bisa dipungkiri konsentrasi dan mobilisasi orang pengunungan makin meningkat. Dan dengan alasan pengamanan menjelang Pemilu, sweeping dan patroli di sekitar daerah tersebut tetap berlangsung. Para akitifis KNPB nampaknya tak juga mau tinggal diam, hingga tanggal 7 April 2009, mereka kembali melakukan aksi di depan Expo, Waena. Menjelang Pemilu 2009 terjadi ekalasi kekerasan yang meningkat di Papua. Di Wamena pada tanggal yang sama 3 April 2009, terjadi juga penangkapan terhadap 2 orang aktifis dan 1 orang pelajar yakni Matius Wuka, Ronny Marian dan Andre Wetipo (pelajar kelas 3 SMU YPK Wamena). Kemudian mereka dilepas keesokan harinya. Kasus lain yang dimulai pada awal Januari di Tingginambut, Mimika dan beberapa tempat lainnya termasuk Nabire 7 April 2009 tentu mengundang tanya apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Apa yang bisa dipahami, jika pelaku di Tingginambut, termasuk 9 Agustus 2008 di Wamena dan tempat lain tidak bisa ditangkap apalagi diungkap, tapi di lain sisi DAP yang aktifitasnya akhir-akhir ini dicurigai sebagai bagian dari gerakan separatis. Menyusul beberapa aktifisnya digiring ke proses hukum dengan gampang diobok-obok oleh polisi. Siapa yang sedang merilis, pesan apa yang mau disampaikan kepada siapa dari kejadian-kejadian tersebut?.

Keterangan foto : Pendampingan terhadap Musa Tabuni,Yance Mote dan Serafin Diaz di polda Papua tanggal 6 april 2009, Andawat.


Sumber : Aliansi Demokrasi untuk Papua

Penggrebekan,penggeledahan, Penyergapan ataukah Sweeping ‘biasa?” (Bagian 1)


oleh : andawatJumat, (3/04) sekitar pukul 12.00 WP Kantor Dewan Adat Papua (DAP) yang beralamat di kompleks ekspo Waena, didatangi oleh pihak aparat keamanan dari satuan Polresta Jayapura dengan menggunakan 3 truck dan 1 mobil kijang mereka memasuki halaman kantor DAP dan mulai menggeledah kantor tersebut dengan mendorong pintu depan.Beberapa anggota langsung masuk ke ruangan -ruangan mengambil beberapa buku, bendera bintang kejora hiasan berukuran mini, tas, dokumen, spanduk, laptop, 1 unit computer serta membawa 14 orang aktifis KNPB.Tidak hanya itu,aparat kepolisian juga mendapat 2 senjata api yang belum diketahui pemiliknya. Senjata ini didapat ketika aparat mulai mengumpulkan orang – orang yang berada di kantor di teras depan kantor.Konon senjata tersebut dilihat oleh salah seorang petugas terletak di atas tas ransel di belakang 2 orang yang dicurigai oleh polisi sebagai ‘pemiliknya’ yakni Mariben Kogoya dan Dina Wanimbo. Mereka semua langsung dibawa dengan menggunakan truck Dalmas ke Polresta Jayapura. Akibat dari pengerebekan, beberapa barang milik kantor tersebut rusak parah seperti 4 pintu, computer, lemari dan barang-barang lainnya. Menurut saksi yang berada di sekitar kantor, bahwa pada awalnya ia sedang membersihkan halaman di sekitar rumahnya yang berada tepat di samping kantor tersebut sekitar pukul 11.30 WP, namun kira-kira 25 menit kemudian tiba-tiba terdengar bunyi sirine mobil polisi yang langsung memasuki halaman kantor kemudian aparat polisi berpakaian lengkap mulai menggeledah kantor. Hingga kini belum diketahui pasti motif yang jelas dari penggeledahan tersebut, dan ke 15 orang yang dibawa ke Polresta Jayapura tidak diketahui secara pasti keterlibatan atau dugaan criminal yang mereka lakukan. Ada cerita berkembang, bahwa penggeledahan kantor DAP diawali dengan kejadian di sekitar jalan raya padang bulan menuju TMP,atau yang lebih dikenal dengan nama “tikungan ale-ale”.Memang pada pagi itu,jum’at 3 april 2009 terjadi keributan soal sengketa tanah atas nama Pengusaha Rasli dengan masyarakat pengunungan saat akan dilakukan pengerukan.Ketika itu Tim satuan Polda datang untuk membantu menyelesaikan.Saat menuju lokasi,mobil truk milik Polda dipanah oleh sekelompok orang pengunungan dan hal itu yang menyebabkan tim Polda Papua menuju ke kantor DAP di depan Expo Waena untuk mencari pelaku. Menurut versi yang lain,bahwa kejadian ini berawal dari penangkapan terhadap 2 orang aktifis mahasiswa di pelabuhan Jayapura yaitu Serafin Diaz dan Musa Tabuni alias Mako Tabuni yang baru saja datang dari Sorong dengan menggunakan KM LAbobar pada pagi hari ditanggal yang sama(3 april 2009). Penangkapan mereka terkait dengan aksi demonstrasi dari DAP dan KNPB pada tanggal 10 maret di Expo Waena,kantor Pos Abe dan DPRP dilanjutkan dengan mencari beberapa activist lainnya ke kantor DAP yang terlibat dengan aksi tersebut. Ketika Latifah Anum Siregar SH,mengecek kebenaran informasi seputar kejadian di Polresta Jayapura sambil mendampingi 14 orang aktifis KNPB.Kasatreskrim polresta Jayapura menjelaskan kronologis yang berbeda.Yaitu bahwa intinya pada hari jumat tanggal 3 april 2009 ada 3 kejadian yang berbeda.Pertama,penangkapan Serafin Diaz dan Musa Tabuni di pelabuhan Jayapura berkaitan dengan peristiwa unjuk rasa saat tanggal 10 maret 2009.Kedua,peristiwa masalah tanah di tikungan ale-ale padang bulan dan ketiga,penggeledahan kantor DAP, menurutnya bahwa ketiga kejadian tersebut terpisah.Anggota polisi yang membantu penyelesaian kasus tanah tim yang berasal dari Polda sedangkan yang melakukan penggeledahan adalah tim gabungan.Menurutnya,sebenarnya tujuan Tim adalah melakukan sweeping di wilayah Expo Waena dan sekitarnya,seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.Akan tetapi pada saat Tim tiba di lokasi Expo,massa yang banyak berkerumun di depan kantor DAP berlarian menuju kantor DAP,atas alasan itulah tim Polresta bergerak menuju kantor DAP. Sore setelah kejadian, situasi sempat tegang,informasi berkembang bahwa akan nada penyisiran ke beberapa pemukiman orang pengunungan termasuk asrama mahasiswa.Namun yang terjadi adalah meluncurnya 4 truk Dalmas yang bergerak dari arah Jayapura,berputar sebentar di Buper Waena dan kembali turun di sekitar Expo.Aparat kepolisian di dalamnya langsung melakukan sweeping dari rumah ke rumah yang berada di wilayah Expo,tepatnya anjungan – anjungan yang sudah menjadi rumah tinggal,setelah itu mereka terus berjaga-jaga dimuka jalan.Keesokan harinya(4/4/2009) masih dilakukan patrol oleh pihak kepolisian di sekitar lokasi tersebut.”pasukan akan terus melakukan pengaman berkaitan dengan menjelang Pemilu..” jelas kapolresta Jayapura saat ditemui pagi hari(4/4/2009)…”saat ini pengamanan malam hari tidak lagi dengan tongkat polisi akan tetapi dengan senjata lengkap..’jelasnya. Berkaitan dengan penemuan 2 pucuk senpi jenis Bareta buatan Italia yang secara phisik mirip pistol jenis FN.Bareta menggunakan peluru yang agak berbeda,berbentuk besi bulat-bulat mirip agel. Bareta bukan senjata standar,dikenal sebagai senjata pengawasan,bukan juga senjata milik kesatuan organic.Bareta yang lama beredar melalui pasar gelap dari gudang-gudang senjata di dearah konflik sedangkan produksi yang baru sekarang ‘dijual’ bebas. Bareta,ditemukan di dalam ransel milik Mariben Kogoya dan Dina Wanimbo,ketika ditanya keduanya tidak menjawab.Sesampai di polresta Jayapura,barulah kedua aktifis tersebut mengatakan bahwa benda tersebut bukan milik mereka akan tetapi ‘dititipkan dan mereka tidak tahu milik siapa.Pernyataan tersebut hingga kini masih misterius,sebab menurut pengakuan para aktifis KNPB tidak ada satupun yang memiliki senjata tersebut.Mariben Kogoya dan Dina Wanimbo memberikanketerangan di polresta dengan maksud bahwa mereka sebenarnya tidak mengetahui kalau senjata tersebut ada di atas tas mereka,bukan di dalam tas,seperti penjelasan pihak kepolisian. Masih mengenai senjata tersebut,seorang saksi mata di TKP menjelaskan bahwa dia sempat mendengar seorang polisi mengatakan “itu kamu punya pistol kah?”sambil menunjuk ke belakang kedua aktifis tersebut.Saat itu terjadi penggeledahan tanpa perlawanan,semua aktifis duduk tegang di depan teras sehingga tidak sempat melakukan sesuatu apapun.Saksi itu sempat mengambil gambar pistol di atas ransel dan seorang anggota polisi berpakaian preman yang membuka sarung pistol tersebut.Misteri pistol ini harus diungkapkan dengan jujur. Setelah 15 orang dibawa ke polresta Jayapura untuk dilakukan interogasi,mereka kemudian digiring ke polda Papua sore harinya.Akan tetapi tidak jelas terjadi koordinasi seperti apa di tingkat kepolisian, kemudian malam harinya mereka dikembalikan ke Polresta Jayapura,kecuali Yance Mote.Keesokan paginya,beberapa Pengacara dan aktifis LSM seperti Iwan Niode,Latifah Anum Siregar,Faisal Tura,Hamim Mustafa dari ALDP, Koordinator KontraS Papua Harry Maturbongs,Gustaf Kawer,Pieter Ell,Jimmy Ell dan Johanis Gewab mendatangi Polresta Jayapura.Tim tersebut sempat bertemu dengan kapolresta Jayapura didampingi kasatreskrim polresta J Takamuli mendiskusikan kondisi dan status ke 14 orang tersebut (Mariben Kogoya,Dina Wanimbo,Charles Asso,Herad Wanimbo,Ogra Wanimbo,Terry Setipo,Fendi Taburai,Nerius Sanimbo,Uria Kehy alias Uri (staff DAP),Leonard Loho,Sepa pahabol,Viona Gombo,Nus Kosay dan Yohanes Elopere).


Sumber : Aliansi Demokarasi untuk Papua

Aksi Tolak Pemilu Berlangsung di Palu

08 April 2009
.fullpost{display:inline;}
Minggu, 05 April 2009 16:28 WIB
TEMPO Interaktif, Palu:Sedikitnya 30 orang mahasiswa dan aktivis lembaga swadaya masyarakat di kota Palu, Sulawesi Tengah berunjukrasa menolak Pemilihan Umum. Alasannya, selain karena tidak demokratis, pemilu hanya menguntungkan elit berduit dan koruptor.Aksi kelompok yang menamakan diri Persatuan Politik Rakyat Miskin Sulawesi Tengah dilakukan di areal taman gedung olah raga Palu. Berbeda dengan aksi biasanya,puluhan massa ini beraksi dengan cara duduk melingkar di bawah pepohonan.
Koordinator aksi M Aqsa dalam orasinya menyebutkan, pemilihan umum yang akan digelar 9 April 2009 mendatang tak lain sebagai upaya pembodohan rakyat dan hanya menghambur-hamburkan uang yang bersumber dari APBN. "Pemilu hanyalah menguntungkan para koruptor, elit berduit serta jenderal-jenderal pelanggar HAM yang tiba-tiba cerdas bicara soal rakyat," katanya.
Untuk itu dalam pernyataan sikapnya, mereka menolak pelaksanaan Pemilu 2009 serta mengajak persatuan gerakan rakyat miskin dan kaum demokratik untuk membangun pemerintahan alternatif.

sumber : lmnd-prm.blogspot.com

Golput dan Perubahan

Pada suatu hari, ketika sedang menggunakan jasa angkutan Taxi, saya sempat menggunakan kesempatan mengobrol dengan sopirnya mengenai pemilu 2009. Pada dasarnya, si sopir Taksi tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap pemerintahan SBY, tetapi ia akan tetap memilih dalam pilpres 2009 jika SBY maju dengan menggunakan cawapres baru, bukan JK lagi. Ia tidak akan memilih dalam pemilu legislatif, karena ia sudah terlanjur sangat tidak percaya dengan partai politik, dan akan memilih golput jika SBY tidak ganti capres.
Pendapat diatas, meskipun kelihatan rumit, tetapi menunjukkan gejala negatif dalam kehidupan politik rakyat, yaitu apatisme. Tingginya keinginan masyarakat melakukan aksi golput justru berkolerasi dengan semakin kuatnya apatisme politik. Meski banyak yang membela golput sebagai bentuk protes sosial, pembangkangan sosial, bentuk gerakan politis, dan sebagainya, tetapi tidak sedikit pula fakta yang menunjukkan suburnya apatisme politik.Memahami GolputTerkadang, para aktifis dan intelektual kritis menempatkan golput sebagai protes politik yang bernilai sama pada semua situasi politik, serta mengabaikan perkembangan-perkembangan politik mutakhir. Sebagai misal, tidak sedikit aktifis maupun intelektual kritis yang mempersamakan efektifitas golput pada era kediktatoran orde baru dengan periode pasang demokrasi liberal sekarang. Akibatnya, mereka kemudian terjebak pada "utopisme", bahwa golput akan meradikalisasi demokrasi sehingga membuka jalan pada kejatuhan rejim dan model politik yang lama. Golput boleh saja diletakkan sebagai tindakan politik yang radikal dan revolusioner. Ia merupakan bagian dari praktek demokrasi secara radikal, terutama dalam meradikalisasi model-model demokrasi ala Shumpeterian yang hanya selalu bertumpu pada kompetisi para elit. Mengikuti Erich Fromm, golput merupakan koreksi terhadap demokrasi agar menciptakan kondisi ekonomi, politik, dan kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. (Erich Fromm, 1994).Golput merupakan tindakan politik yang harus diletakkan pada konteks dan situasi politik yang tepat. Pada jaman kediktatoran, dimana proses pemilu sepenuhnya dikontrol secara "militeristik" oleh rejim orde baru, golput punya arti politik sangat penting sebagai proses pendeligitimasi rejim otoritarian, selain untuk memupuk kesadaran anti kediktatoran rakyat. Tentu ia menjadi senjata yang ampuh menghadapi kediktatoran, sangat cocok pada situasi ketidakadaan space democracy (ruang demokrasi), dan sebagainya.Demobilisasi Demokrasi

Angka golput yang semakin tinggi, kelihatan berjalan pararel dengan ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat terhadap sistim demokrasi politik liberal. Paska kejatuhan rejim orde baru, dimana sistim politik demokrasi lansung bertransformasi menjadi liberal, persoalan kesejahteraan yang merupakan permasalahan mendasar rakyat tidak juga terselesaikan. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir paska reformasi, diketahui bahwa tingkat kemiskinan terus merangkak naik, pengangguran terus bertambah, dan kehidupan ekonomi kian morat-marit.

Akibatnya, rakyat semakin apolitis. Rakyat makin tidak percaya, bahwa proses-proses politik yang berlansung, meskipun dengan cara-cara demokratis-tentu saja dengan ukuran borjuis-tidak akan menyelesaikan permasalahan mendasar mereka; kesejahteraan. Si sopir Taksi, misalnya, mengatakan kepadaku; "lebih baik narik bang, daripada ikut pemilu. Sekarang mah, kita harus cari penghidupan sendiri". Akhirnya, karena rakyat semakin nihil dalam bertindak dalam politik real, maka arena politik semakin didominasi oleh para elit yang sekedar bagi-bagi atau rebutan kekuasaan.

Pada titik ini, makna golput justru menyuburkan apatisme politik, bukan pendidikan politik. Di negeri-negeri liberal sekalipun, jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dari 45% hingga 60%. Di Venezuela, tingkat kepuasan politik rakyat sebelum kedatangan Chaves malah 35%, sedangkan rata-rata Amerika latin hanya mencapai 37%.

Keengganan pemilih untuk mendatangi kotak pemilihan juga tidak menjadi hambatan bagi kesinambungan pemerintahan dan sistim politik demokrasi di negeri-negeri liberal. Meskipun partisipasi politik rendah, itu tidak menjadi masalah bagi penganut Schumpeterian. Karena bagi mereka, setidaknya demokrasi diukur dari proses kompetitif para elit, hak pilih bebas, dan regularitas. Toh bagi mereka, dan sejalan dengan penganut kebebasan individual, kebebasan untuk memilih dan tidak memilih merupakan hak pribadi yang tak dapat diganggu gugat.

Jadi, golput hanya akan mengijinkan kontinuitas, bukan perubahan. Golput yang sangat tinggi pun tidak akan menggiring pada krisis politik bagi faksi-faksi elit yang sudah lama berkuasa. Sebaliknya, kebutuhan untuk melakukan perubahan mensyaratkan aktifasi perjuangan politik yang lebih opensif, pembangunan poros politik alternatif, dan tentu saja, partisipasi aktif rakyat miskin.

Rudi Hartono, Redaktur Berdikari Online dan Jurnal Arah Kiri.
Berdikari

Golput dan Perubahan

Pada suatu hari, ketika sedang menggunakan jasa angkutan Taxi, saya sempat menggunakan kesempatan mengobrol dengan sopirnya mengenai pemilu 2009. Pada dasarnya, si sopir Taksi tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap pemerintahan SBY, tetapi ia akan tetap memilih dalam pilpres 2009 jika SBY maju dengan menggunakan cawapres baru, bukan JK lagi. Ia tidak akan memilih dalam pemilu legislatif, karena ia sudah terlanjur sangat tidak percaya dengan partai politik, dan akan memilih golput jika SBY tidak ganti capres.
Pendapat diatas, meskipun kelihatan rumit, tetapi menunjukkan gejala negatif dalam kehidupan politik rakyat, yaitu apatisme. Tingginya keinginan masyarakat melakukan aksi golput justru berkolerasi dengan semakin kuatnya apatisme politik. Meski banyak yang membela golput sebagai bentuk protes sosial, pembangkangan sosial, bentuk gerakan politis, dan sebagainya, tetapi tidak sedikit pula fakta yang menunjukkan suburnya apatisme politik.Memahami GolputTerkadang, para aktifis dan intelektual kritis menempatkan golput sebagai protes politik yang bernilai sama pada semua situasi politik, serta mengabaikan perkembangan-perkembangan politik mutakhir. Sebagai misal, tidak sedikit aktifis maupun intelektual kritis yang mempersamakan efektifitas golput pada era kediktatoran orde baru dengan periode pasang demokrasi liberal sekarang. Akibatnya, mereka kemudian terjebak pada "utopisme", bahwa golput akan meradikalisasi demokrasi sehingga membuka jalan pada kejatuhan rejim dan model politik yang lama. Golput boleh saja diletakkan sebagai tindakan politik yang radikal dan revolusioner. Ia merupakan bagian dari praktek demokrasi secara radikal, terutama dalam meradikalisasi model-model demokrasi ala Shumpeterian yang hanya selalu bertumpu pada kompetisi para elit. Mengikuti Erich Fromm, golput merupakan koreksi terhadap demokrasi agar menciptakan kondisi ekonomi, politik, dan kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. (Erich Fromm, 1994).Golput merupakan tindakan politik yang harus diletakkan pada konteks dan situasi politik yang tepat. Pada jaman kediktatoran, dimana proses pemilu sepenuhnya dikontrol secara "militeristik" oleh rejim orde baru, golput punya arti politik sangat penting sebagai proses pendeligitimasi rejim otoritarian, selain untuk memupuk kesadaran anti kediktatoran rakyat. Tentu ia menjadi senjata yang ampuh menghadapi kediktatoran, sangat cocok pada situasi ketidakadaan space democracy (ruang demokrasi), dan sebagainya.Demobilisasi Demokrasi

Angka golput yang semakin tinggi, kelihatan berjalan pararel dengan ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat terhadap sistim demokrasi politik liberal. Paska kejatuhan rejim orde baru, dimana sistim politik demokrasi lansung bertransformasi menjadi liberal, persoalan kesejahteraan yang merupakan permasalahan mendasar rakyat tidak juga terselesaikan. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir paska reformasi, diketahui bahwa tingkat kemiskinan terus merangkak naik, pengangguran terus bertambah, dan kehidupan ekonomi kian morat-marit.

Akibatnya, rakyat semakin apolitis. Rakyat makin tidak percaya, bahwa proses-proses politik yang berlansung, meskipun dengan cara-cara demokratis-tentu saja dengan ukuran borjuis-tidak akan menyelesaikan permasalahan mendasar mereka; kesejahteraan. Si sopir Taksi, misalnya, mengatakan kepadaku; "lebih baik narik bang, daripada ikut pemilu. Sekarang mah, kita harus cari penghidupan sendiri". Akhirnya, karena rakyat semakin nihil dalam bertindak dalam politik real, maka arena politik semakin didominasi oleh para elit yang sekedar bagi-bagi atau rebutan kekuasaan.

Pada titik ini, makna golput justru menyuburkan apatisme politik, bukan pendidikan politik. Di negeri-negeri liberal sekalipun, jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dari 45% hingga 60%. Di Venezuela, tingkat kepuasan politik rakyat sebelum kedatangan Chaves malah 35%, sedangkan rata-rata Amerika latin hanya mencapai 37%.

Keengganan pemilih untuk mendatangi kotak pemilihan juga tidak menjadi hambatan bagi kesinambungan pemerintahan dan sistim politik demokrasi di negeri-negeri liberal. Meskipun partisipasi politik rendah, itu tidak menjadi masalah bagi penganut Schumpeterian. Karena bagi mereka, setidaknya demokrasi diukur dari proses kompetitif para elit, hak pilih bebas, dan regularitas. Toh bagi mereka, dan sejalan dengan penganut kebebasan individual, kebebasan untuk memilih dan tidak memilih merupakan hak pribadi yang tak dapat diganggu gugat.

Jadi, golput hanya akan mengijinkan kontinuitas, bukan perubahan. Golput yang sangat tinggi pun tidak akan menggiring pada krisis politik bagi faksi-faksi elit yang sudah lama berkuasa. Sebaliknya, kebutuhan untuk melakukan perubahan mensyaratkan aktifasi perjuangan politik yang lebih opensif, pembangunan poros politik alternatif, dan tentu saja, partisipasi aktif rakyat miskin.

Rudi Hartono, Redaktur Berdikari Online dan Jurnal Arah Kiri.

April 07, 2009

Pernyataan Sikap Aski Bersama

PERNYATAAN SIKAP AKSI BERSAMA 5 APRIL 2009 [Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh (GSPB), Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, Persatuan Politik R
05 April 2009
.fullpost{display:inline;}
TOLAK PEMILU ELIT 2009, BANGUN KEKUASAAN RAKYAT DENGAN PERSATUAN RAKYAT DAN KAUM GERAKAN
Pemilu 2009 dilaksanakan bersamaan dengan krisis ekonomi dunia yang sangat parah. Segera rakyat jelas melihat bahwa tidak ada kekuatan peserta pemilu yang akan mengatasi krisis dari akar masalahnya. Bahkan lebih buruk lagi, jelas bagi rakyat bahwa seluruh peserta pemilu adalah biang kerok (pembuat masalah) krisis Indonesia itu sendiri. Sehingga bagi rakyat miskin, pemilu 2009 adalah ajang konsolidasi kekuasaan elit musuh rakyat, dan bertentangan langsung dengan kepentingan rakyat. Maka pada Aksi Bersama Rakyat Miskin hari ini, dengan keberanian dan penuh semangat kami menyatakan sikap:
1. Pemilu 2009 berbahaya bagi rakyat miskin dan harus ditolak, karena: a. Pemilu 2009 tidak demokratis dan membatasi partisipasi seluruh rakyat, dari undang-undang, proses persiapan hingga pelaksanaan kampanye dan pemilihan. Semua proses pemilu menghambat bagi keterlibatan partai milik rakyat miskin (bahkan dengan represi fisik pun, seperti dialami PAPERNAS). Hanya elit berduit pendukung kekuasaan (yang sudah menumpuk kekayaan sejak Orde Baru hingga sekarang) akhirnya yang menjadi peserta pemilu 2009;
b. Pemilu 2009 akan menghasilkan pemerintahan kekuasaan yang pasti akan memperparah krisis dan merugikan rakyat. Sekalipun dalam kampanye terdengar juga isu kemandirian ekonomi, tapi tidak menutupi kenyataan bahwa semua alat politik (partai dan tokoh) dalam pemilu adalah pendukung politik utang dan politik obral kekayaan alam kepada asing;
c. Pemilu 2009 sepenuhnya menjadi ajang kekuatan musuh rakyat, yang diikuti oleh para boneka penjajah ekonomi asing (Imperialis), penjahat HAM, para koruptor, dan Reformis Gadungan penipu rakyat;
d. Pemilu 2009 tidak menyediakan pilihan bagi rakyat karena tidak ada partai dari gerakan rakyat. Sekalipun banyak aktivis gerakan mendukung pemilu, namun mereka semua tidak menjadi pilihan baru dalam pemilu, dan justru para aktivis terkooptasi tersebut telah menegaskan politiknya mendukung kekuatan politik musuh rakyat;
e. Pemilu 2009 dalam seluruh prosesnya hanya omong kosong bicara demokrasi dan aspirasi rakyat. Seluruh rakyat sudah membuktikan dan melihat langsung, bagaimana semua peserta pemilu sibuk membagi uang dan barang untuk membeli dukungan, juga sibuk membuat deal-deal antar elit/partai yang memperjual-belikan suara rakyat bagi pilihan presiden ke depan.
2. Tidak bisa tidak cara rakyat mendapatkan penyelesaian seluruh persoalan adalah dengan berjuang untuk mendirikan kekuasaan rakyat, berjuang untuk menggantikan pemerintahan elit, berjuang mendirikan Pemerintahan Rakyat Miskin. Hanya Pemerintahan Rakyat Miskin yang sanggup dan berkepentingan untuk mewujudkan kesejahteraan, kemandirian dan kemajuan bagi rakyat dan negara Indonesia. Pemerintahan dari dan oleh rakyat ini juga hanya akan terbangun dari persatuan yang terus dikuatkan, diantara rakyat dan kaum gerakan, dan tidak melibatkan elit politik musuh rakyat. Pada saat sekarang, kebutuhan persatuan tersebut adalah membuat konsolidasi nasional kaum gerakan, untuk mewujudkan wadah politik bersama kaum gerakan dan rakyat yang berlawan (dari buruh, tani, kaum miskin kota, mahasiswa, kaum perempuan dll).
3. Program Mendesak mengatasi semua persoalan rakyat (PHK, upah murah, lapangan kerja, pendidikan mahal dll) adalah menjalankan Industrialisasi Nasional. Program Industrialisasi Nasional tidak akan berjalan oleh pemerintahan elit, dan hanya akan terwujud oleh Pemerintahan Rakyat Miskin yang berani memusatkan pembeayaan dari: Nasionalisasi Industri Energi dan Pertambangan Asing; Nasionalisasi Industri Perbankan; Menghentikan penarikan dan pembayaran Utang Luar Negeri disertai penarikan kembali obligasi rekapitalisasi perbankan; Tangkap, Adili dan Sita Harta Koruptor, Pajak Progresif untuk individu-individu berpenghasilan tinggi, Pengenaan pajak dan royalti untuk transaksi-transaksi spekulatif.
Perjuangan pada 5 April ini dijalankan di berbagai kota di Indonesia, dan merupakan bagian dari perjuangan terus-menerus rakyat Indonesia hingga kekuasaan rakyat terwujud. Pada 1 Mei 2009 dan pada setiap waktu yang memungkinkan, rakyat miskin akan kembali turun ke jalan dengan kekuatan persatuan yang semakin terbangun.
Jakarta, 5 April 2009
Panitia Aksi Bersama 5 April:
Sulaeman Ketua

lmnd-prm.blogspot.com

Maret 22, 2009

Kapitalisme Menggusur Papua


Oleh: Lamadi de Lamato (*)
JUBI—Ekonomi kapitalisme disebut-sebut telah mati dengan krisis dunia yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini. Runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) pada tanggal 11/9/99 merupakan awal mula symbol kapitalisme tersebut sebenarnya mulai tumbang. Jika dihitung terpaut 8 tahun antara krisis ekonomi di AS dan runtuhnya WTC. Betulkah kapitalisme akan mati? Pertanyaan tersebut masih debatable.Namun bagi bangsa Indonesia terutama yang pro pada ekonomi alternatif, kapitalisme memang harus segera diganti biar kita tidak kalang kabut seperti sekarang. Amerika yang terkena krisis tapi dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia. Biar kita terbebas dari dampak yang timbul dari resesi yang sama, bangsa kita harus merumuskan model perekonomian alternatif yang aman. Trauma krisis tahun 1996 bisa menjadi contoh, betapa bangsa kita sempat anjlok luar biasa saat diterpa dampak krisis regional. Kurs rupiah dari Rp 2500 naik menjadi Rp 11000 per dolar AS, sebuah angka yang sempat membuat perekonomian negara kita kolaps dalam waktu yang cukup lama. Dashyat benar krisis saat itu, bukan bank-bank saja yang harus dilikuidasi tapi di sektor yang lain pun saat itu mengalami kekacauan yang teramat luar biasa. Politik berjalan dengan abnormal, orang miskin karena PHK bergelimang dan masih banyak lagi. Membayangkan hari-hari saat krisis memang teramat pilu dan menggetirkan. Tidak perlu jauh-jauh, di Papua efek ekonomi kapitalisme yang terjadi di luar sana bisa juga kita lihat di sini. Kapitalisme dipersoalkan karena wataknya yang tidak sesuai dengan semangat hidup bangsa kita yang pada dasarnya bersifat komunal. Individualism, jurang antara yang kaya dan miskin dalam memperoleh kekayaan begitu sangat lebar adalah sedikit dari watak buruk ekonomi impor tersebut. Kapitalisme juga berwatak tega terhadap ekonomi kecil. Bukti otentik kapitalisme memang teramat menggetirkan. Seolah dalam sekejap wajah Papua yang 10 tahun silam masih begitu ‘ramah’ tapi sekarang ini ekonomi di Papua menjadi sangat ‘angkuh’. Di sepanjang jalan terlihat ada yang kontras, ekonomi kapitalisme berdiri dengan angkuhnya dengan memperlihatkan kemewahannya, sementara di depannya berjejer para penjual pinang, sayur-sayuran, kerajinan yang saya simbolkan dengan kesederhanaan. Memang sepintas ekonomi kota berjalan dengan simbiosis-mutualisme tapi tahukah implikasi dari fenomena model tersebut? Menggetirkan dan menghawatirkan!. Dua kalimat itu memang tidak cukup mewakili kecemasan kita. Tapi fakta bahwa Papua sedang mengalami proses aliaenasi pelan-pelan dengan watak kapitalisme adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari lagi. Nafri, Abepantai, Skyline, Yoka dan Pulau Koso adalah beberapa kampung yang bisa kita jadikan contoh dari implikasi dari kapitalisme yang menggusur tadi. Kampung pertama (Nafri) penduduknya mayoritas orang asli Papua. Beberapa dasawarsa yang lalu, mereka dikenal sebagai pemilik tanah di sebagian kota Jayapura. Tapi tahukah Anda sekarang, tanah mereka yang banyak tadi sudah terjual demi proyek yang bernama pembangunan. Sejahterakah mereka setelah mereka memperoleh uang dari penjualan tanah tersebut? Hemat penulis tidak! Kampung Nafri perlahan menjadi kampung yang kumuh dan paling ditakuti karena sangat rawan dengan tindakan kriminalitas. Tentu, mudah-mudahan ini bukan pertanda kalau pembangunan perlahan-lahan mulai menggusur mereka seperti fenomena masyarakat Betawi di Jakarta. Abepantai adalah kampung yang konon sebagai kampung paling ramai di kota Jayapura dahulu kala. Penghuni kampung ini rata-rata adalah pendatang yaitu orang Buton, Fak-Fak dan lain-lain. Keramaian kampung ini sama seperti daerah kunjungan wisata para perantau dari Buton. Dimanapun orang Buton bertebaran di kota Jayapura, pasti mereka sangat mengenal kampung ini. Keunikan kampung ini terletak pada pesta Kadayo dan cewek-ceweknya. Sudah pasti daya tarik inilah yang membuat kampung ini begitu ramai pada saat itu. Tentu selain itu, kampung ini terkenal dengan lumbung pertanian yang mensejahterakan masyarakat setempat. Tapi apa yang terjadi setelah pembangunan digalakan? Realitas kampung ini lagi-lagi menggetirkan, kampung ini sekarang menjadi kampung yang kumuh dan gelap di malam hari karena masyarakatnya enggan menyalakan lampu. Lapangan pekerjaan pertanian yang menjadi tumpuan hidup mereka selama ini perlahan mulai hilang karena geliat pembangunan yang luar biasa. Banyak diantara mereka kini mulai beralih profesi, sebagai pemungut sampah, kuli bangunan, tukang ojek dan lain-lain. Lagi-lagi dalam sekejap pula, kampung ini menjadi kampung yang tidak menarik. Identitas kampung Buton yang “wah” di masa lalu, kini berubah 180 derajat menjadi kampung Buton yang kumuh dan terpinggir.Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari realitas tersebut? Pertama, pembangunan dipercaya dapat mempercepat kemajuan suatu daerah memang tidak bisa dibantah. Tapi tahukah dimanapun pembangunan, pasti melahirkan efek negatif. Arif Budiman dalam bukunya Pembangunan Dunia Ketiga (Gramedia;1991) tercengang dengan model ekonomi kapitalisme yang begitu cepat menggusur dan mengalienasi masyarakat yang tidak siap. Kedua, tahukah juga bahwa alianasi tersebut terjadi karena penguasaan sektor-sektor vital dimiliki oleh beberapa gelintir orang. Kasus penguasaan tanah oleh sebuah perusahaan terhadap tanah-tanah yang ada di kota Jayapura dan sekitarnya telah menyebabkan kebingungan baru bagi sebagian masyarakat kita. Mereka dilarang berkebun dan akhirnya terjadi pengangguran baru karena tanah-tanah yang tadinya menjadi lahan pertanian kini telah dipatok oleh pemiliknya. Kasus ini bisa ditemukan pada masyarakat petani di Skyline. Begitupula dengan motif pembangunan yang ingin menggusur masyarakat pulau Koso, Jayapura Selatan. Para penghuninya yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan itu ingin ditertibkan karena di anggap merusak pemandangan pembangunan. Teralienasinya masyarakat dari proses pembangunan akan semakin banyak terjadi. Kasus daerah-daerah itu hanya sedikit dari contoh kapitalisme yang menggusur. Lalu apa yang harus diperbuat agar pembangunan bisa lebih ramah pada kelompok yang rentan di atas? Program pemberdayaan dengan model piramida terbalik sebenarnya sangat tepat dalam menjawab problem tersebut – porsi anggaran lebih besar ke kampung-kampung daripada untuk pemerintah. Tapi fakta di lapangan, program itu ternyata tidak berjalan dengan baik karena perilaku elit kita sendiri. Jika ditarik, perilaku elit yang tidak konsisten itu sesungguhnya adalah bagian dari ekses kapitalisme juga. Jadi, impian bahwa pembangunan yang bernama berkeadilan sebenarnya tidak ada dalam logika kapitalisme. Jika banyak Negara yang sudah terjebak dan sudah melawan kapitalisme seperti Bolivia, Venezuela dan beberapa Negara di Asia. Mengapa bangsa ini belum juga merumuskan sesuatu yang baru dan dapat menyelamatkan ekses negatif dari ekonomi kapitalisme tersebut?Keinginan itu pastinya ada tapi tanpa pemerintah yang kuat, berani dan konsisten maka bangsa ini akan tetap berkutat di situ saja. Kita bagai negara yang berada dalam lingkaran setan kapitalisme. Kendati kita sadar bahwa ini salah tapi kita tidak punya keberanian untuk mengambil keputusan secara cepat dan berani. Sebelum kita terjerambab dalam krisis sosial karena geliat pembangunan, khususnya di Papua maka patut kiranya kita bisa membaca tanda-tanda ekses kapitalisme tadi dengan bijak. Siapa lagi yang harus berpikir dan mengantisipasi efek-efek kapitalisme di sekeliling kita kalau bukan generasi sekarang. Jika kita terbuai dengan model sekarang maka sesungguhnya kita tidak ada bedanya dengan keledai. Contoh kota-kota besar yang mengagung-agungkan kemajuan fisik dalam waktu 32 tahun hanya menghasilkan beberapa gelintir orang kaya tapi melahirkan puluhan juta rakyat yang kehilangan masa depan yang bertebaran di kolong-kolong jembatan. Kita tinggal memilih, maukah kita seperti keledai yang jatuh di lubang yang sama? Tentu kita berharap apa yang terjadi di kota besar lain, tidak akan sampai terjadi di Papua. Kalau itu impian kita, maka saatnya kita berbenah bila kita masih ingin otensitas budaya, alam dan masyarakat kita bisa terjaga baik dari generasi ke generasi. Semoga.

(*) Direktur La-KEDA Institute Papua dan Penulis Buku Bola Liar Kegagalan Otsus

sumber :

Kapitalisme Menggusur Papua

Oleh: Lamadi de Lamato (*)
JUBI—Ekonomi kapitalisme disebut-sebut telah mati dengan krisis dunia yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini. Runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) pada tanggal 11/9/99 merupakan awal mula symbol kapitalisme tersebut sebenarnya mulai tumbang. Jika dihitung terpaut 8 tahun antara krisis ekonomi di AS dan runtuhnya WTC. Betulkah kapitalisme akan mati? Pertanyaan tersebut masih debatable.Namun bagi bangsa Indonesia terutama yang pro pada ekonomi alternatif, kapitalisme memang harus segera diganti biar kita tidak kalang kabut seperti sekarang. Amerika yang terkena krisis tapi dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia. Biar kita terbebas dari dampak yang timbul dari resesi yang sama, bangsa kita harus merumuskan model perekonomian alternatif yang aman. Trauma krisis tahun 1996 bisa menjadi contoh, betapa bangsa kita sempat anjlok luar biasa saat diterpa dampak krisis regional. Kurs rupiah dari Rp 2500 naik menjadi Rp 11000 per dolar AS, sebuah angka yang sempat membuat perekonomian negara kita kolaps dalam waktu yang cukup lama. Dashyat benar krisis saat itu, bukan bank-bank saja yang harus dilikuidasi tapi di sektor yang lain pun saat itu mengalami kekacauan yang teramat luar biasa. Politik berjalan dengan abnormal, orang miskin karena PHK bergelimang dan masih banyak lagi. Membayangkan hari-hari saat krisis memang teramat pilu dan menggetirkan. Tidak perlu jauh-jauh, di Papua efek ekonomi kapitalisme yang terjadi di luar sana bisa juga kita lihat di sini. Kapitalisme dipersoalkan karena wataknya yang tidak sesuai dengan semangat hidup bangsa kita yang pada dasarnya bersifat komunal. Individualism, jurang antara yang kaya dan miskin dalam memperoleh kekayaan begitu sangat lebar adalah sedikit dari watak buruk ekonomi impor tersebut. Kapitalisme juga berwatak tega terhadap ekonomi kecil. Bukti otentik kapitalisme memang teramat menggetirkan. Seolah dalam sekejap wajah Papua yang 10 tahun silam masih begitu ‘ramah’ tapi sekarang ini ekonomi di Papua menjadi sangat ‘angkuh’. Di sepanjang jalan terlihat ada yang kontras, ekonomi kapitalisme berdiri dengan angkuhnya dengan memperlihatkan kemewahannya, sementara di depannya berjejer para penjual pinang, sayur-sayuran, kerajinan yang saya simbolkan dengan kesederhanaan. Memang sepintas ekonomi kota berjalan dengan simbiosis-mutualisme tapi tahukah implikasi dari fenomena model tersebut? Menggetirkan dan menghawatirkan!. Dua kalimat itu memang tidak cukup mewakili kecemasan kita. Tapi fakta bahwa Papua sedang mengalami proses aliaenasi pelan-pelan dengan watak kapitalisme adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari lagi. Nafri, Abepantai, Skyline, Yoka dan Pulau Koso adalah beberapa kampung yang bisa kita jadikan contoh dari implikasi dari kapitalisme yang menggusur tadi. Kampung pertama (Nafri) penduduknya mayoritas orang asli Papua. Beberapa dasawarsa yang lalu, mereka dikenal sebagai pemilik tanah di sebagian kota Jayapura. Tapi tahukah Anda sekarang, tanah mereka yang banyak tadi sudah terjual demi proyek yang bernama pembangunan. Sejahterakah mereka setelah mereka memperoleh uang dari penjualan tanah tersebut? Hemat penulis tidak! Kampung Nafri perlahan menjadi kampung yang kumuh dan paling ditakuti karena sangat rawan dengan tindakan kriminalitas. Tentu, mudah-mudahan ini bukan pertanda kalau pembangunan perlahan-lahan mulai menggusur mereka seperti fenomena masyarakat Betawi di Jakarta. Abepantai adalah kampung yang konon sebagai kampung paling ramai di kota Jayapura dahulu kala. Penghuni kampung ini rata-rata adalah pendatang yaitu orang Buton, Fak-Fak dan lain-lain. Keramaian kampung ini sama seperti daerah kunjungan wisata para perantau dari Buton. Dimanapun orang Buton bertebaran di kota Jayapura, pasti mereka sangat mengenal kampung ini. Keunikan kampung ini terletak pada pesta Kadayo dan cewek-ceweknya. Sudah pasti daya tarik inilah yang membuat kampung ini begitu ramai pada saat itu. Tentu selain itu, kampung ini terkenal dengan lumbung pertanian yang mensejahterakan masyarakat setempat. Tapi apa yang terjadi setelah pembangunan digalakan? Realitas kampung ini lagi-lagi menggetirkan, kampung ini sekarang menjadi kampung yang kumuh dan gelap di malam hari karena masyarakatnya enggan menyalakan lampu. Lapangan pekerjaan pertanian yang menjadi tumpuan hidup mereka selama ini perlahan mulai hilang karena geliat pembangunan yang luar biasa. Banyak diantara mereka kini mulai beralih profesi, sebagai pemungut sampah, kuli bangunan, tukang ojek dan lain-lain. Lagi-lagi dalam sekejap pula, kampung ini menjadi kampung yang tidak menarik. Identitas kampung Buton yang “wah” di masa lalu, kini berubah 180 derajat menjadi kampung Buton yang kumuh dan terpinggir.Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari realitas tersebut? Pertama, pembangunan dipercaya dapat mempercepat kemajuan suatu daerah memang tidak bisa dibantah. Tapi tahukah dimanapun pembangunan, pasti melahirkan efek negatif. Arif Budiman dalam bukunya Pembangunan Dunia Ketiga (Gramedia;1991) tercengang dengan model ekonomi kapitalisme yang begitu cepat menggusur dan mengalienasi masyarakat yang tidak siap. Kedua, tahukah juga bahwa alianasi tersebut terjadi karena penguasaan sektor-sektor vital dimiliki oleh beberapa gelintir orang. Kasus penguasaan tanah oleh sebuah perusahaan terhadap tanah-tanah yang ada di kota Jayapura dan sekitarnya telah menyebabkan kebingungan baru bagi sebagian masyarakat kita. Mereka dilarang berkebun dan akhirnya terjadi pengangguran baru karena tanah-tanah yang tadinya menjadi lahan pertanian kini telah dipatok oleh pemiliknya. Kasus ini bisa ditemukan pada masyarakat petani di Skyline. Begitupula dengan motif pembangunan yang ingin menggusur masyarakat pulau Koso, Jayapura Selatan. Para penghuninya yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan itu ingin ditertibkan karena di anggap merusak pemandangan pembangunan. Teralienasinya masyarakat dari proses pembangunan akan semakin banyak terjadi. Kasus daerah-daerah itu hanya sedikit dari contoh kapitalisme yang menggusur. Lalu apa yang harus diperbuat agar pembangunan bisa lebih ramah pada kelompok yang rentan di atas? Program pemberdayaan dengan model piramida terbalik sebenarnya sangat tepat dalam menjawab problem tersebut – porsi anggaran lebih besar ke kampung-kampung daripada untuk pemerintah. Tapi fakta di lapangan, program itu ternyata tidak berjalan dengan baik karena perilaku elit kita sendiri. Jika ditarik, perilaku elit yang tidak konsisten itu sesungguhnya adalah bagian dari ekses kapitalisme juga. Jadi, impian bahwa pembangunan yang bernama berkeadilan sebenarnya tidak ada dalam logika kapitalisme. Jika banyak Negara yang sudah terjebak dan sudah melawan kapitalisme seperti Bolivia, Venezuela dan beberapa Negara di Asia. Mengapa bangsa ini belum juga merumuskan sesuatu yang baru dan dapat menyelamatkan ekses negatif dari ekonomi kapitalisme tersebut?Keinginan itu pastinya ada tapi tanpa pemerintah yang kuat, berani dan konsisten maka bangsa ini akan tetap berkutat di situ saja. Kita bagai negara yang berada dalam lingkaran setan kapitalisme. Kendati kita sadar bahwa ini salah tapi kita tidak punya keberanian untuk mengambil keputusan secara cepat dan berani. Sebelum kita terjerambab dalam krisis sosial karena geliat pembangunan, khususnya di Papua maka patut kiranya kita bisa membaca tanda-tanda ekses kapitalisme tadi dengan bijak. Siapa lagi yang harus berpikir dan mengantisipasi efek-efek kapitalisme di sekeliling kita kalau bukan generasi sekarang. Jika kita terbuai dengan model sekarang maka sesungguhnya kita tidak ada bedanya dengan keledai. Contoh kota-kota besar yang mengagung-agungkan kemajuan fisik dalam waktu 32 tahun hanya menghasilkan beberapa gelintir orang kaya tapi melahirkan puluhan juta rakyat yang kehilangan masa depan yang bertebaran di kolong-kolong jembatan. Kita tinggal memilih, maukah kita seperti keledai yang jatuh di lubang yang sama? Tentu kita berharap apa yang terjadi di kota besar lain, tidak akan sampai terjadi di Papua. Kalau itu impian kita, maka saatnya kita berbenah bila kita masih ingin otensitas budaya, alam dan masyarakat kita bisa terjaga baik dari generasi ke generasi. Semoga.

(*) Direktur La-KEDA Institute Papua dan Penulis Buku Bola Liar Kegagalan Otsus

sumber :

http://www.tabloidjubi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1687&Itemid=66
Bapedalda Kota Jayapura menyelenggarakan sosialisasi pendidikan lingkungan bernuansa Papua kepada para guru dari tingkat TK-SMP-SMA. Sosialisasi ini untuk menerapkan pendidikan lingkungan menjadi salah satu mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Salah satu guru mata pelajaran Geografi di SMA YPPK Asisi Sentani Yemima Laly kepada Jubi mengatakan lingkungan adalah paru-paru dunia atau paru-paru manusia. Jika lingkungan tak sedap atau tak ada pohon maka manusia merasa tak segar. Mata Pelajaran Muatan Lokal (Mulok) yang selama ini diajarkan kepada siswa adalah Mulok tentang sagu yakni para siswa diajarkan mengenai bagaimana menanam sagu, diolah menjadi makanan begizi sampai menjadi kue sagu (kusago).Namun, Mulok ini dianggap belum pas dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada karena lingkungan di Sekitar Kota Sentani selalu terjadi banjir bila turun hujan. Yemima menuturkan bahwa setelah dirinya mengikuti beberapa kegiatan tentang lingkungan masing-masing dari Badan Pegendali dan Pengelola Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Papua di Jayapura dan Foker LSM Papua yang di selenggarakan belum lama ini, ia mendapat pemahaman tentang lingkungan dan dampaknya. Kemudian ia bandingkan dengan kondisi Daerah Sentani, dimana sering terjadi banjir akibat kotoran dan banyak sampah.Untuk itu, Jemima mengungkapkan bahwa mata pelajaran Mulok ini perlu diberikan kepada para siswa agar mereka mengetahui alasan-alasan mengapa terjadi banjir, tanah longsor dan lain-lain.Mulok tentang lingkungan ini sudah dirapatkan bersama dan rencana akan diajarkan pada tahun ajaran baru nanti pada bulan depan setelah ujian semester. Mulok tentang lingkungan ini masih belum terfokus tetapi masih secara umum. Namun pihaknya berharap ada fokus pembelajaran dalam pemberian Mulok tentang lingkungan ini kepada para siswa. Agar Mudah Dimasukan Dalam Silabus Untuk itu, pemerintah lewat Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Provinsi Papua dapat memberikan kurikulum kepada masing-masing sekolah dan sekaligus menentukannya dalam bentuk kurikulum. Agar para guru mudah memasukannya dalam silabus sebab biasanya yang menjadi kendala dalam penentuan mata pelajaran adalah Silabus. Selain itu, mudah diajarkan oleh para guru di masing-masing sekolah kepada para siswa karena kalau Mulok tentang lingkungan saja jelas pengertiannya luas.“Saya sebagai Guru Geografi menganggap Mulok tentang lingkungan ini bagus karena anak-anak sekarang mengetahui tentang lingkungan,” ujar Yemima.Yemima berharap Mulok tentang lingkungan ini jangan hanya diajarkan di Kabupaten Jayapura saja tetapi di Kota Jayapura juga diajarkan. Karena saat ini banyak orang tak mencintai lingkungan seperti membuang sampah tak pada tempatnya, menebang pohon atau illegal logging dan lain-lain.Sementara itu, Guru Mata Pelajaran Biologi SMA YPPK Asisi Sentani Yohana Rumayom, yang diberi tanggung jawab untuk mengajar mata pelajaran Mulok mengatakan, Mulok yang selama ini diajarkan adalah Mulok tentang Kue Sagu (Kusagu) namun Mulok tentang lingkungan ini belum diajarkan kepada para siswa. Mulok tentang lingkungan akan dimasukan dalam kurikulum untuk diajarkan di semua kelas yakni kelas X–XII pada semester baru nanti.Yohana menuturkan, Mulok tentang lingkungan ini dititikberatkan pada kondisi lingkungan Sekitar Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Selain itu juga dapat dikaitkan dengan Mulok di lingkungan tempat tinggal masing-masing.“Mengapa Mulok bisa diambil dan diajarkan kepada siswa? karena lingkungan di Sekitar Kota Sentani sering terjadi banjir yang mengakibatkan sejumlah infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang hancur pada tahun 2006 lalu.“Saya anjurkan agar siswa setelah mengikuti mata pelajaran Mulok dapat mempraktekan seperti memelihara pohon karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap aktifitas manusia. Seadainya tak ada pohon maka manusia akan merasa tak nyaman,” ujar Yohana. Selain itu, menurut Kepala Sekolah SMA YPPK Asisi Sentani Dra. Kasnah Napitu mengatakan bahwa Mulok sangat bagus jika diajarkan kepada siswa. Agar para siswa mengetahui tentang lingkungan. “Kita harus ciptakan lingkungan yang bersih,” ujarnya seraya menambahkan mata pelajaran itu sangat relevan dengan lingkungan hidup juga dapat melatih para siswa mengetahui suasana asli dari lingkungan itu agar tetap hijau. Sekalipun pengetahuan sedikit tetapi setidaknya siswa dapat tau mengetahui pentingnya lingkungan,” tukasnya.Kemudian Deby Herawati Yoku, salah seorang siswa menandaskan, hutan adalah paru-paru dunia. Tanpa hutan manusia merasa hampa seperti tanpa pohon di pinggiran jalan saat panas maka jelas akan berlindung. Hujan juga bisa dikatakan tempat perlindungan bagi manusia.Deby menuturkan bahwa bagi dia Mulok tentang lingkungan itu sangat bagus jika diajarkan kepada mereka karena dengan begitu pemahaman dan pengertian mereka terutama bagi generasi penerus mempunyai pengetahuan tentang lingkungan. Waktu sangat sedikit untuk mendapatkan Mulok tentang lingkungan di sekolah, untuk itu dalam pemberian mata pelajaran Mulok ini bisa langsung dipraktekkan dengan lingkungan dimana ia berada.“Pemanfaatan hutan saat ini sangat kurang sekali. Hal ini dapat dilihat seperti pada Lingkungan Cagar Alam Cycloop yang telah mengalami kekeringan. Sedangkan kita berharap pemerintah seharusnya dapat melestarikannya” ujar Deby.Deby juga mengutarakan bahwa dirinya pernah beberapa kali mengikuti klub pecinta alam dari CPA Hirosi yang digelar oleh Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup (YPLHC) Cycloop Papua. Selain itu, ia juga mengaku ikut lintas alam penanaman pohon dan pembersihan hutan di Jalan Toladan sampai Kantor Bupati Kabupaten Jayapura.Kegiatan seperti ini sangat bagus bagi pemuda-pemudi terutama untuk Orang Papua. Kerusakan hutan yang bisa dilihat adalah penebangan kayu/pembalakan liar dan lain-lain. Deby mengaku dirinya bersama teman-temannya sangat sulit melestarikan hutan yang ada.Selain, cara lain yang harus dilakukan adalah tidak membuang sampah sembarangan. Dirinya juga berharap jika ada kegiatan dari LSM maupun instansi lain mereka berharap dapat dilibatkan bersama rekan-rekannya. Menunjang Sistem KompetensiWakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Negeri 3 Jayapura, Nur Achmadi kepada Jubi menjelaskan tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). “Mulok, intinya kurikulum seperti apa yang menunjang kira-kira di daerah ini apa yang menonjol. Kalau di SMK Negeri 3 Jayapura khususnya Mulok adalah kurikulum yang sifatnya menunjang sistem kompetensi yang ada di jurusan masing-masing. Di Jurusan Bangunan misalnya, untuk muatan KTSP di luar Mulok itu belum ada bangunan anti gempa, kita bikin Mulok bangunan anti gempa. Jurusan Permesinan, Mulok las dan kelistrikan. “Minimal siswa sedikit memahami tentang kelistrikan,” ujarnya. Sementara itu, Staf Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Cykloop (YPLHC) Papua Siprianus Guntur S.Si mengatakan kepada Jubi Mulok seharusnya sudah ada di semua mata pelajaran. Pendidikan lingkungan hidup bukan hanya mempelajari hutan dan sampah tetapi sebenaranya mempelajari tiga dimensi mencakup ekonomi, sosial dan ekologi.Memang sangat bagus lingkungan hidup masuk dalam Mulok dan dijadikan mata pelajarang namun yang jadi kendala adalah semua bidang studi sudah masuk dalam kurikulum nasional. Sehingga sebaiknya lingkungan hidup dijadikan mata pelajaran Mulok. “Di Pulau Jawa lingkungan hidup dimasukan ke dalam Mulok. Untuk itu kita di Papua, Mulok harus dimasukkan ke dalam mata pelajaran,” katanya. (Musa Abubar/Carol Ayomi)



Sumber :

http://www.tabloidjubi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1683&Itemid=54

Maret 15, 2009

Rakyat Menghadapi Pemilu 2009

34 partai dinyatakan lolos verifikasi dan berhak menjadi peserta pemilu 2009. Kampanye pun sudah dimulai minggu ini. Memang diakui penyelenggaraan pemilu kali inipun belum bisa memenuhi hasrat demokratik yang membolehkan seluruh rakyat ambil bagian dalam pemilu atau membuat lega seluruh rakyat untuk berpartisipasi dalam pemilu 2009.

Kecurigaan pada ideologi tertentu masih dipertahankan. Akibatnya yang tampak tetap masih usaha partai-partai status quo untuk mendominasi pemilu 2009 dengan berbagai cara dan menghalangi munculnya partai alternatif pilihan rakyat. Karenanya syarat-syarat peserta pemilu 2009 pun disesuaikan dengan kepentingan partai-partai besar di parlemen yang selama ini juga terbukti tak sanggup membawa bangsa ini keluar dari berbagai keterpurukan. Itulah mengapa ketidakadilan dalam soal kepesertaan pemilu 2009 menyeruak ke atas bahkan pasca KPU mengumumkan partai peserta pemilu 2009. Dalam situasi seperti ini apa yang bisa diharapkan rakyat pada pemilu 2009? Atau tak ada lagi yang bisa diharapkan atau memang tak ada lagi kemampuan untuk berharap?
Pemilu 2009 adalah pemilu ketiga pasca kejatuhan otoritarianisme Orde Baru. Hitungan ketiga seakan berarti juga peringatan terakhir dari rakyat untuk konsistensi dan komitmen partai-partai dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, entah apapun aliran ideologi dan bendera yang dikibarkan. Dari dua kali pemilu, 1999 dan 2004, rakyat sepertinya tak menemukan buah yang manis dari penjatuhan otoritarianisme Orde Baru. Buahnya justru semakin pahit bahkan sebagian rakyat merasa: pemerintahan Soeharto dirasa cukup sandang, pangan dan papan, aman tak ada keributan. Pemerintahan reformasi yang sudah berganti beberapa presiden diterjemahkan sebagai pemerintahan repotnasi, ribut tanpa arah pembangunan yang jelas di tengah keterpurukan bangsa yang semakin nyata: krisis pangan dan krisis energi.

Karena itu sebagai hajatan demokratik pasca terpasungnya demokrasi selama 32 tahun, pemilu 2009 menjadi peristiwa penting untuk menandai kemajuan dan kemunduran perjuangan demokrasi di Indonesia. Lebih dari itu, pemilu 2009 dilaksanakan dalam naungan usaha-usaha membangkitkan bangsa dari berbagai keterpurukan: ekonomi, sosial dan budaya akibat cengkraman nyata kekuatan asing, neoliberalisme, yang kini semakin menuntut diliberalkannya semua jaminan sosial yang sudah didapatkan rakyat: subsidi pendidikan, kesehatan, termasuk subsidi BBM agar menjadi barang dagangan pasar belaka tanpa dilandasi tugas luhur negara dalam memajukan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat sebagaimana amanat proklamasi kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Dengan demikian Rakyat hendak dibiarkan berjuang sendirian di tengah lautan pasar yang merupakan dunia komersiil dan dunia para petualang pencari laba yang seringkali tak peduli pada nilai-nilai gotong-royong yang merupakan nilai pergaulan sekaligus landasan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.



Dengan membaca perjalanan sejarah bangsa, Pemilu kali ini sebisa mungkin diharapkan mewarisi semangat para pejuang dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia 100 tahun yang lalu. Pun semangat keberanian dari para pemimpin yang menyatakan kemerdekaan dari kolonialisme, hampir 63 tahun yang lalu, demi pemerintahan yang mandiri dan bermartabat sebagaimana dimiliki bangsa-bangsa berdaulat lainnya. Pemilu kali ini juga disemangati gelora pemuda, 80 tahun yang lalu ketika memandang keindonesiaan yang berarti persatuan nusantara menjadi satu bangsa adalah jalan satu-satunya mengusir penjajah yang telah bercokol ratusan tahun di bumi nusantara. Pun semangat mahasiswa dan rakyat, 10 tahun yang lalu, yang dengan berani menghadapi mesin kekerasan Orde Baru yang sudah buta dan tuli pada penderitaan rakyat dan justru semakin sewenang-wenang pada rakyat kecil.

Pada pemilu 1999, dengan antusias rakyat memberikan suara perubahan pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Namun, harapan itu tampak sia-sia sehingga pada pemilu 2004, rakyat meninggalkan PDI Perjuangan. Dengan situasi ini, semoga antusiasme rakyat yang masih ada dalam menghadapi pemilu 2009 untuk menuju kotak-kotak suara perubahan yang diharapkan, dapat menemukan pahlawan-pahlawannya. Dengan demikian, tak lagi dikecewakan. Pemilu 2009 harus mengambil bentuk yang berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, tidak bisa lagi rakyat sekedar menjadi mesin suara, termasuk mengambil bentuk golput jika tidak berhasil menghentinkan hegemoni politik dan ekonomi neoliberal. Politik yang menindas, menghisap, dan melahirkan kemiskinan, hanya akan mungkin ditinggalkan jikalau mesin-mesin politik yang menjalankannya juga ditinggalkan oleh rakyat. Bangsa Indonesia akan bisa melangkah ke depan jikalau seluruh rantai-rantai penjajahan yang mengikat kakinya, berupa campur tangan asing dalam lapangan ekonomi, politik, hukum dan budaya, benar-benar sudah diputus dan dihancurkan. Untuk melakukan itu, diharuskan sebuah politik persatuan anti imperialis yang kuat, sebuah program perjuangan yang pro -kemandirian nasional, dan dukungan seluruh rakyat Indonesia. Kami tegaskan, perjuangan memutar kendali atas masa depan bangsa ini harus berupa "gerakan banting setir; dengan membangun Haluan Ekonomi Baru, Presiden Baru dan Pemerintahan Baru dengan Tri Panji Persatuan Nasional.


AJ Susmana :
Wasekjend Bidang Kaderisasi dan Komunikasi Massa (KAKOMAS) DPP PAPERNAS.

sumber : www.papernas.org

Pemilu 2009: Pertempuran Yang Menentukan!

Oleh: RUDI HARTONO

Kita tetap harus melangkah kedepan. Pemilu 2009 yang merupakan persimpangan jalan sedang menunggu didepan mata; kearah mana republik ini akan bergerak? Akan sangat ditentukan oleh pertentangan dan perimbangan kekuatan politik di dalam pemilu 2009; antara unsur progressif dan kekuatan lama. Unsur progressif mengacu pada kelompok-kelompok social yang menghendaki perubahan; bukan saja perubahan kepemimpinan nasional, tetapi menghendaki perubahan haluan ekonomi, politik dan kebudayaan. Sedangkan kekuatan lama meliputi perentangan antara kekuatan politik orde baru, Golkar, dan Demokrat, beserta politisi-politisi konservatif yang tetap mempertahankan jalan lama; neoliberalisme, dan menafikan penderitaan yang dialami oleh ratusan juta rakyat.
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
Dan tak bisa dihindarkan, pertentangan ini akan mewarnai situasi politik pemilu 2009, dan semakin memanas menjadi isu utama dalam pemanasan menuju 2009, serta menjadi bahan bakar politik paska pemilu itu sendiri. Tinggi dan rendahnya intensitas pertentangan ini sangat dipengaruhi beberapa factor; pertama, pertikaian politik ditingkatan elit, yang memaksa mereka melompat menggunakan tema-tema kritik anti pemerintah yang pernah digunakan kaum oposisi; partai, gerakan mahasiswa, gerakan buruh, LSM, dan lain-lain. Kedua, tingkat kesadaran massa; terutama untuk memahami konteks persoalan sekarang dan jalan keluarnya, sehingga manifest menjadi tuntutan-tuntutan politik yang akan disodorkan pada calon legislatif dan calon presiden. Ketiga, keberadaan grup anti imperialis yang bekerja dalam syarat-syarat parlementer; semakin mereka menemukan ruang yang agak leluasa, akan semakin memperbesar kesempatan menumpahkan amunisi perjuangan anti-imperialisnya. Setidaknya, factor-faktor tersebut akan menjadi variable-variabel yang saling mempengaruhi antara segi-segi politik dalam pemilu.

Posisi Strategis Pemilu 2009
Pemilu 2009 mempunyai derajat berbeda dibanding pemilu sebelumnya (1999 dan 2004), baik dalam kandungan demokratisnya, maupun makna-makna strategisnya bagi perjuangan anti -imperialis. Pemilu 2009 merupakan perhelatan ketiga rejim -rejim paska reformasi. Angka tiga menunjukkan batas-batas tolerasi dan kesabaran rakyat untuk menunggu perubahan dari janji para elit politik. gejala ketikpuasan, keresahan, protes, perlawanan, demonstrasi, sudah hadir dimana-mana dan menaikkan kekhawatiran pemerintah berkuasa, dan pengusung neoliberalisme.

Seberapa strategis pemilu 2009 bagi kaum Imperialis? Hal ini akan mudah dijelaskan dengan pendekatan ekonomi dan politik; pertama, Indonesia sampai saat ini adalah penghasil 25% timah, 2,2% batubara, 7,2% emas, dan 5,7% nikel dunia, Indonesia merupakan penghasil gas terbesar di dunia, juga sebagai penghasil batubara terbesar setelah Australia, dan masih juga memproduksi minyak bumi. belum lagi jumlah penduduk yang mencapai 230 jiwa, betul-betul merupakan pangsa pasar yang sangat menggiurkan. Hal ini akan menjadi alasan ekonomis bagi imperialis untuk tidak melepaskan Indonesia dalam peta dominasi dan pengerukannya. Kedua, secara politik, proses pemaksaan dominasi atas bangsa Indonesia agak berlangsung mudah karena dikondisikan oleh keberadaan jajaran elit politik didalam negeri yang sudah pasti mendukungnya. Kolonialisme menguasai Indonesia sekitar 300 -an tahun, sebuah hitungan waktu yang panjang, menyebabkan ikatan-ikatan ekonomi dan politik yang berbau kolonialisme masih bertahan. Jika ada fraksi politik yang siap dibina dan dipelihara untuk menjaga tujuan-tujuan imperialism di Indonesia, maka adalah tindakan bodoh melepas begitu saja pertentangan politik di tahun 2009. ketiga, Indonesia adalah Negara besar, bukan saja penduduknya yang besar, tetapi juga wilayahnya, posisi strategisnya, dan kekayaan alamnya. Besarnya pengaruh Indonesia dalam konteks politik internasional dibutuhkan imperialis sebagai sekutu tambahan guna menghadapi pembangkang-pembangkang di Amerika Latin; Venezuela, Bolivia, Cuba, Paraguay, dan Ekuador, atapun untuk mengatasi pesaing-pesaingnya, seperti China, India, dan Rusia.

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah, tidak mencerminkan kondisi rakyatnya. Indonesia merupakan penyumbang orang miskin terbesar dikawasan Asia tenggara, yang mencapai 60%. Besarnya kekayaan alam tidak sebanding dengan anggaran yang disusun pemerintah guna membiayai pembangunan. Sebagian besar kekayaan alam itu dirampok, sedangkan sisanya menjadi pendapatan negara yang sebagian besarnya untuk membiayai kepentingan oligarki dan multinasional. Orang miskin tidak pernah mendapatkan separuh dari pendapatan itu. Gambaran yang kontras ini, telah berkontribusi pada kesenjangan luar biasa. Menurut ekonom UGM Mudrajad Kuncoro, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2000 hanya dinikmati oleh 40% golongan menengah dan 20% golongan terkaya. Sisanya, sebanyak 40% kelompok penduduk berpendapatan terendah makin tersisih. Kelompok penduduk ini hanya menikmati porsi pertumbuhan ekonomi 19,2% pada 2006, makin kecil dibanding tahun 2000 sebesar 20,92%. Sebaliknya, 20% kelompok penduduk terkaya makin menikmati pertumbuhan ekonomi, dari 42,19% menjadi 45,72%.

Gambaran ini melahirkan ketidakpuasan yang tak dapat dibendung, bahkan dengan tidak malu-malu pemerintah berkuasa memanipulasi angka kemiskinan, seperti yang jelas-jelas dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Dalam konteks pemilu, suara ini akan menjadi lahan perebutan bagi partai-partai yang menawarkan perang atas kemiskinan. Ketidakpuasan yang mencakup mayoritas dari kalangan menengah dan kalangan bawah akan memberikan ruang yang sempit bagi para oligarki dan partai -partai pengusung neoliberal, utamanya Golkar dan Demokrat. Tapi ini bukan kesimpulan yang begitu saja benar, dan mengurangi inisiatif perjuangan kolektif. Karena pengaruh social masyarakat yang masih mengikuti pilihan politik tradisionalnya (patron-klien, primordial, dan ketokohan).

Pengelompokan Politik
Begitu rumit mendapatkan pengelompokan baku dan permanent dalam konfigurasi politik di Indonesia. Hal itu dikarenakan beberapa faktor, diantaranya; tidak adanya ideology yang jelas dari masing2 partai, orientasi partai yang sangat pragmatis, dan lemahnya jangkauan oposisi ekstra-parlemen terhadap dinamika politik diparlemen, dan politik klientalisme. Faktor-faktor tersebut mengaburkan garis demarkasi antara oposisi dan partai berkuasa. Jalan paling memungkinkan untuk menemukan pengelompokan politik dari berbagai kekuatan politik yang ada adalah sikap politik mereka dan orientasi politiknya menjelang 2009.

Ukuran tersebut berjalan berdasarkan beberapa faktor-faktor pula yang begitu mempengaruhi; seperti, pertama, perimbangan kekuatan politik antara yang pro-pada pemerintah dan yang berposisi oposisi terhadap pemerintah; Kedua, sejauh mana ungkapan-ungkapan keresahan dan ketidakpuasan terhadap neoliberalisme, dominasi asing, dan kemiskinan mengambil tempat dalam tema-tema politik. Inipun dipengaruhi oleh keterlibatan dan keberpihakan media massa, dalam mengelola isu ini; apakah memunculkannya sebagai konsumsi umum, atau menutupi, memanipulasi dan membelokkannya. Ketiga, manuver politik dari kekuatan lama untuk menawarkan "jalan damai" kepada oposisi, yang dibungkus dengan retorika "kepentingan bangsa". Golkar kelihatannya akan memanfaatkan metode ini. Sadar bahwa dukungannya bakal menurun dalam pemilu mendatang, dari pada terlempar sama sekali dari kekuasaan, akan mencoba menjajaki skenario koalisi longgar dengan PDIP. Jika ini terjadi, akan segera merubah semua peta politik yang ada dan menjinakkan kubu nasionalis dalam pemilu 2009 mendatang.

Proyeksi pemilu 2009 sebagai agenda penting, baik pejuang anti imperialis dan blok pendukungnya, maupun imperialis dan sekutunya. Hal itu akan memelihara pertentangan diantara keduanya. Sehingga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang kusinggung tadi, maka pengelompokannya tidak melulu berdasarkan partai atau organisasi social, karena sikap individu terkadang tidak mencerminkan sikap partai; demikian pula sebaliknya. Berikut pengelompokannya;

Pertama, adalah kubu kekuatan lama yaitu kekuatan politik yang mengekspresikan kelanjutan tipe pemerintahan sekarang, dan selain mendukung neoliberalisme juga mau mengintensifkan dan memperluasnya. Yang sangat menonjol adalah Golkar dan Demokrat. Pada kubu ini sokongan imperialis diberikan, termasuk dukungan dana dan infrastruktur kampanye.

Kedua, kubu fundamentalis. Kubu ini dalam beberapa momentum politik paska reformasi memainkan politik oportunistik dan reaksioner, seperti yang diperlihatkan dalam kasus poros tengah yang menaikkan gusdur dan kemudian kembali membangun blok politik guna menjatuhkannya. Kekuatan ini meliputi PPP, Partai Bintang Bulan (PBB), dan juga Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mereka seringkali mempromosikan ideologi dan syariat islam sebagai topengnya, tapi mengadaptasikan diri dengan proyek neoliberal dalam praktek politik. Mereka membuat front-front ekstra-parlementer guna memupuk "suara pemilih islam", dengan memamfaatkan isu-isu agama, yahudi, dan lain-lain. Jadi meski mengaku islam, tapi pada kenyataannya dapat dimanfaatkan guna membelah kubu pertama.

Ketiga, kubu kekuatan baru. Kelompok yang mencerminkan kehendak menuju perubahan; menghendaki haluan ekonomi baru, pemerintahan baru, dan kebudayaan progressif, pendek kata, mewujudkan Indonesia baru. Hanya saja, cara pandang terhadap Indonesia baru masih begitu beraneka ragam (heterogen), spectrum ideologinya luas, dan kepentingan politik dibalik itu juga macam-macam. PDIP dan PKB misalnya, merepresentasikan kekuatan oposisi terhadap pemerintahan dan berposisi kritis terhadap kebijakan neoliberal pemerintah. Selain itu ada PBR, yang merangkum beberapa aktifis pergerakan juga memperlihatkan tujuan anti neoliberal. Di luar itu, ada pula beberapa tokoh seperti Drajat Wibowo dan Amien Rais (PAN), Rizal Ramli yang mempelopori Komite Indonesia Bangkit (KIB), dan beberapa tokoh mudah seperti Fajroel Rahman, Budiman Sujatmiko, dan lain-lain.

Pertempuran Sengit dan Menentukan
Menghadapi pemilu 2009, seluruh energi dari kedua kubu akan dikerahkan. Pengerahan kekuatan sebagai jalan memenangkan "peperangan", akan mendorong partai-partai guna memobilisasi dukungan dari rakyat. Kekosongan ideology yang nampak umum dalam tradisi partai politik kita, akan mendorong penggunaan cara-cara "menipu dan manipulatif" sebagai pendekatan utama. Kekosongan ideology membuat partai tidak punya pegangan dalam berpolitik, sekaligus arah perjuangan yang menunjukkan kehendak kolektif rakyat Indonesia. Bagaimana dengan kecenderungan Golput? Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) melihat, penyebab paling dominant dari golput adalah proses pendaftaran pemilih yang amburadul. Akibatnya, kata Koordinator Nasional JPPR Jeirry Sumampow, data fiktif masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) karena data dasarnya saja sudah kacau. Maka, tidak heran kalau angka orang yang tidak menggunakan hak pilih sangat tinggi. Bahkan di hampir setiap tempat pemungutan suara (TPS), jumlah angka fiktif itu mencapai 50 persen. (suara pembaruan, 31/8/2008)

Kecenderungan golput dan kekosongan ideology akan dimanfaatkan oleh partai yang secara ideology lebih konkret, dan lebih "rapi" dalam pengorganisasian massanya, yakni PKS. Kendati untuk pemilu 2009, PKS tidak menawarkan solusi programatik dan konkret kepada rakyat, dan terbukti PKS sebelumnya adalah pendukung setia pemerintahan SBY-JK. Akan tetapi, kampanye golput yang disuarakan sejumlah organisasi social-kerakyatan perlu dicermati ulang efektifitasnya; bukankah akan berpengaruh jika memberikan dukungan suara terhadap perimbangan kekuatan kubu anti neoliberal dan pro-neoliberal nanti. Perlu difikirkan ulang lagi oleh kawan-kawan gerakan, bukankah seruan golput akan mengamankan dukungan suara PKS.

Berarti rakyat harus didorong untuk memobilisasi dukungannya. Tapi, memobilisasi dukungan untuk siapa? Saat ini, pada momen yang menentukan ini, berbagai bentuk ketidakpuasan, protes, dan perlawanan terbuka, sudah mengambil bentuknya dalam skala lebih luas, lebih sporadis, dan tanpa jedah. Adalah lahan besar bagi kekuatan politik yang lebih solid, punya program yang tepat, dan punya kemampuan untuk memupuk suara dari kalangan tersebut. Kerusakan-kerusakan politik dan ketidakmampuan partai pendukung neoliberalisme mengatasai keadaan, merupakan alasan utama kalangan menengah dan bawah untuk mengalihkan dukungan kepada partai yang punya program yang bersentuhan dengan kebutuhan mereka. Dan tentunya, pengusaha nasional yang dilemahkan, dihilangkan potensi pertumbuhannya, dan dihancurkan oleh capital raksasa multinasional, akan memberikan dukungan kepada kekuatan politik progressif.

Oleh karena itu, bukan sekedar memunculkan figur-figur baru dalam panggung politik, akan tetapi kekuatan politik baru harus mampu menciptakan tradisi berpolitik yang baru; berbeda dengan cara berpolitik oligarkis dan politisi lama. Tradisi berpolitik yang baru ini adalah cara mengorientasikan Negara dan aparatusnya untuk bekerja bersama rakyat; menjaga dan mendistribusikan sumber-sumber ekonomi, mengelola ekonomi dan produksi untuk rakyat, dan memajukan tenaga produktif massa rakyat.

Langkah-langkah menuju hal itu harus dipersiapkan. Beberapa langkah mendesak yang harus dipersiapkan kekuatan politik baru ini adalah; pertama, melakukan konsolidasi yang sifatnya programatik dan strategis, guna mengatasi fragmentasi politik dikalangan unsur maju dan moderat, serta mengucilkan unsur-unsur reaksioner dan kekuatan lama. Kedua, menemukan platform yang tepat dan manjur untuk menyelesaikan krisis neoliberal, yang akan menjadi platform bersama seluruh kekuatan baru dalam sebuah front persatuan nasional, aliansi antar parpol, ataupun semacam kaukus aktifis muda di parlemen. Karena problemnya merupakan perluasan dari pengaruh/efek neoliberalisme, maka platformnya adalah anti-neoliberalisme. Anti neoliberalisme adalah pijakan untuk menentang dominasi asing dan multinasional, serta menggagas Indonesia baru. Dengan sendirinya, akan menjadi ukuran bagi kekuatan politik baru yang terbentuk----untuk membedakannya dengan nasionalisme yang chauvinis.

Karena telah menderita kerusakan politik luar biasa, sudah barang tentu, partai-partai pro-asing, dalam hal ini Golkar dan Demokrat, akan memanfaatkan segala macam cara dan manipulasi untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka jelas akan unggul secara finanasial, tetapi belum tentu unggul dalam kekuatan organisasi. Karena dimana-mana mereka terlihat mengalami kekalahan dalam pilkada, belum lagi efek buruk dari kebijakannya yang tidak populer. Kurun waktu 8 bulan kedepan (sampai pemilu), tentu merupakan ukuran waktu yang tak cukup merehabilitasi kerusakan-kerusakan politik partai-partai pemerintah, meskipun pemerintah menggelontorkan sejumlah anggaran untuk program BLT, Askeskin, Raskin, KUR, PNP-M, BOS, dan sebagainya.

Untuk sementara, dan kelihatannya akan terus berlanjut; ketidakpuasan dan keresahan akan berkembang berhimpitan dengan pilihan-pilihan politik rakyat. Beratnya beban ekonomi dan kesulitan memperoleh akses terhadap ekonomi, merupakan gejala yang umum dalam masyarakat kita. Dan dalam konteks pemilu; isu-isu tersebut akan menjadi isu utama dalam pertentangan kekuatan-kekuatan politik untuk berebut pengaruh dan dukungan. Kalau arahnya adalah barbarisme, silahkan melanjutkan politik yang ada sekarang. Tapi jika kehendaknya adalah perubahan, silahkan pilih calon dan partai yang punya program anti neoliberal dan pro kemandirian nasional.

Penulis adalah Pengurus DPP PAPERNAS, Staff Redaksi Berdikari Online

Maret 11, 2009

Dialog Jakarta Papua Sebuah Perspektif Papua

Contributed by Kyoshi Rasiey
Wednesday, 11 March 2009
Lagi sebuah peluncuran buku berjudul Dialog Jakarta Papua Sebuah Perspektif Papua di aula Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur (STFT)-Papua. Buku setebal 52 halaman sebenarnya merupakan beberapa artikel dari penulis Dr Neles Tebay yang pernah dimuat pada Harian The Jakarta Post, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan dan Pasific Post. Kepada JUBI di sela sela peluncuran buku di Aula STFT, Rabu (11/3) Dr Neles Tebay mengatakan buku ini merupakan
pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat orang lain sehingga kalau ada yang mau berbeda itu hak mereka untuk beragumentasi dalam menyampaikan aspirasinya.
Pertama, mengenai judul buku, saya beri judul Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua. Saya menulis sebuah perspektif Papua, bukan perspektif Papua. Artinya isi buku ini bukanlah pandangan dari semua orang Papua, melainkan hanya satu perspektif dari Papua,ujar Tebay. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dia menyadari orang lain di Papua dapat saja mempunyai perspektif yang lain tentang dialog antara Jakarta dan Papua.
Kedua saya melihat bahwa konflik Papua yang melibatkan dua belah pihak yakni Pemeirintah Indonesia dan orang asli Papua ini sudah berlangsung sejak 1960 an sampai sekarang belum dituntaskan secara menyeluruh, tegas Tebay Ketua STFT.
Ditegaskan Tebay, selama konflik Papua ini berlangsung Pemerintah Indonesia dan orang asli Papua saling memandang dan memberlakukan satu sama lain sebagai musuh. Kedua belah pihak yang bertikai ini berperan sebagai problem makar dan hubungan antara kedua belah pihak ini diwarnai oleh kecurigaan dan ketidakpercayaan,tutur Neles Tebay.
Ditegaskan Tebay, untuk menyelesaikan konflik Papua, kata dia kedua belah pihak yang selama ini bertikai perlu mengambil posisi yang baru. Maka saran dia Pemerintah Indonesia dan orang Papua perlu mengambil posisi sebagai problem sover, pemecah masalah.Dengan posisi baru ini, kedua belah pihak akan menggumuli secara bersama konflik Papua dan mencari jalan keluar secara damai. Posisi dan peran baru ini dapat dilakukan di dalam dan melalui
suatu dialog,ujar Neles Tebay. Ditambahkan melalui dialog inilah, kedua belah pihak bersama sama dapat mengindetifikasi persoalan- persoalan dan mencarikan solusi yang diterima dan disetujui kedua belah pihak.
Ke empat lanjut dia tidak adanya konsep dialog, sekalipun pentingnya dialog konflik Papua telah diakui berbagai pihak yang bertikai selama ini. Banyak elemen masyarakat Papua menyuarakan dialog sebagai mekanisme yang bermartabat untuk mencari penyelesaian dama atas konflik Papua, tetapi mereka tidak memperlihatkan konsep dialog yang dihendakinya,”ujar Tebay. Dilain pihak kata dia pemerintah pun, dalam berbagai kesempatan berjanji untuk
menyelesaikan konflik Papua secara dama dengan pendekatan dialog, tetapi tidak pernah menawarkan konsep tentang dialog. Tulisan sederhana ini bermaksud mengisi kekosongan bahan tertulis tentang dialog konflik di Papua,kata Neles Tebay mantan koresponden The Jakarta Post di Papua.
Kelima lanjut dia sekalipun penulis buku ini orang asli Papua tetapi tidak boleh dianggap sebagai pandangan dari orang Papua. Saya membuat tulisan ini atas nama pribadi, bukan mewakili sekelompok atau semua orang Papua. Sebab itu saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini hanya memuat pandangan probadi si penulis, bukan pendapat semua orang Papua,ujar Tebay.
Ditambahkan orang Papua yang lain mungkin mempunyai konsep dialog yang berbeda dari konsep yang dia tawarkan dalam tulisan ini. Kalau ternyata ada orang Papua yang mempunyai pandangan yang sama tentang isi dari tulisan ini, maka hal ini terjadi secara kebetulan saja. Orang boleh saja menerima atau menolak konsep dialog ini,ujar Tebay.
Keenam kata dia, dalam buku kecil ini mencakup lima belas (15) pokok antara lain bagian
(1) menggambarkan pentingnya dialog Jakarta guna menyelesaikan masalah Papua secara damai,
(2) memperlihatkan adanya kemauan untuk berdialog dari kedua belah pihak yang bertikai,
(3) mengangkat pentingnya pernyataan public orang Papua bahwa isu kemerdekaan Papua tidak akan dibahas dalam dialog.
(4) Menekankan pentingnya Pemeirntah Indonesia memperlihatkan keseriusan berdialog dengan orang Papua,
(5) mengangkat pentingnya kerangka acuan dialog,
(6)memaparkan prinsip prinsip dasar,
(7) menguraaikan tujuan dialog,
(8) menekankan pentingnya partisipasi masyarakat Papua,
(9) menawarkan target target yang dapat dicapai melalui dialog Jakarta - Papua,
(10) menggambarkan tahapan dialog,
(11) mengindentifikasi peserta dialog ,
(12) mengindintifikasi fasilitator dan peranannya,
(13)menyinggung pentingnya keterlibatan lembaga lembaga ilmiah,
(14) menerangkan peranan pihak ketiga, dan
(15)menekankan pentingnya monitoring tindak lanjut.
Semua pokok yang dibahas dalam buku kecil ini bukanlah merupakan sebuah gagasan baru sebab sudah diungkapkan dalam berbagai artikel meskipun sepotong potong dalam beberapa media antara lain The Jakarta Post, Suara Pembaharuan, SinarHarapan, dan majalah Sampari. Dengan demikian tulisan ini merupakan rangkuman pemikiran penulis tentang dialog antara pemerintah dan orang Papua dalam kerangkan menyelesaikan masalah Papua secara damai.
Ketujuh, dengan menyampaikan pendapat pribadi ini, penulis tidak bermaksud untuk mendikte pihak manapun, baik pihak pemeirntah mau pun pihak orang Papua.”Saya hanya mengharapkan agar buku kecil ini, mudah mudahan dapat dijadikan sebagai bahan untuk memulai dan membuka diskusi lebih lanjut baik di dalam maupun di luar tanah Papua demi menyelesaikan konflik Papua melalui dialog Jakarta-Papua,ujar Tebay. Ditegaskan orang Papua
dapat menerima semua aspek yang telah ditawarkan dalam buku kecil ini atau pun dia juga tidak keberatan kalau ada orang Papua yang menolak semuanya atau hanya menerima sebagian kecil saja. Hal yang sama dapat pula dilakukan pemerintah Indonesia ,ujar Neles Tebay. Lebih lanjut dia menjelaskan dengan adanya buku kecil ini, pemerintah dan orang Papua dapat membahas aspek aspek dalam dialog, hingga mencapai suatu pemahaman yang sama tentang dialog yang dikehendaki kedua belah pihak dalam rangka penyelesaian masalah Papua. (Dominggus A
Mampioper/Yunus Paelo)