CIRI-CIRI SEORANG REVOLUSIONER
1.Mengapa kita perlu merubah diri kita menjadi seorang revolusioner ?
Sebagai seorang revolusioner, kita perlu mengabdikan pikiran-pikiran, emosi dan perbuatan-perbuatan kita kepada kepentingan perjuangan demokrasi sejati di Indonesia. Tapi masing-masing kita dan setiap orang diantara kita masih membawa pikiran-pikiran, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan lama dari masyarakat bobrok yang ada sekarang ini. Kita tumbuh dalam masyarakat yang tindas dan dihisap oleh kapitalisme. Sampai hari ini, kita masih dipengaruhi oleh gagasan-gagasan bobrok atau parsangka-parangka borjuasi dari masyarakat kini. Karena itulah, mengapa perlu bagi setiap mereka yang revolusioner merubah dirinya sendiri.
Kita harus mengubah diri kita sendiri melalui perjuangan revoluioner secara aktif, dan dengan kesadaran didalam perjuangan, kita melawan ide-ide, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan keliru. Apabila kita terus melaksanakan tugas-tugas kita, maka sesungguhnya kita sedang membentuk watak kita sendiri di tengah-tengah badai perjuang kita melawan musuh-musuh rakyat. Semakin dalam dan jauh, maka kita akan menjadi teguh dan cakap dalam perjuangan. Mengubah diri sendiri tidaklah hanya berhenti hanya dalam beberapa jam atau hari saja. Ia adalah perjuangan yang lama dan sulit. Karena itulah mengapa kita perlu terus-menerus berusaha keras menghilangkan pengaruh masyarakat bobrok yang masih melekat. Hanya dengan cara demikianlah kita dapat melaksanakan tugas-tugas revolusioner kita lebih baik, dan ketetapan hati kita makin teguh dalam menggelorakan perjuangan demokrasi sejati sampai kemenangan sosialisme. Kita mengubah diri kita untuk memperkuat watak-watak dasar seorang revolusioner, yakni:
* Bersungguh-sungguh, hati-hati dan bergairah dalam perjuangan.
* Siap dan tanpa rasa takut menghadapi pengorbanan dan kematian
* Bersatu dan hangat bersahabat dengan kawan-kawan revolusioner lain.
* Berani menerima kritik dan bersedia memperbaiki kesalahan dan kelemahan.
2.Bagaimana seorang revolusioner memandang tugas dan tanggung-jawabnya dalam revolusi?
Seorang revolusioner memandang dan menghargai tugas-tugas dan tanggung jawabnya secara penuh dalam perjuangan. Ia tahu bahwa tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab revolusionernya merupakan bagian dari tugas besar membebaskan rakyat dari belenggu pengisapan dan penindasan. Melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dan tanggung jawab-tanggung jawab dengan penuh menyadari betapa pentingnya, berarti menjunjung kepentingan rakyat Indonesia.
Apa tanda-tanda bahwa seorang revolusioner melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh tahu arti pentingnya? Ia bersungguh-sungguh dan bersemangat ketika sedang melaksanakan tugasnya. Ia merasa gembira, antusias dan bergairah dalam perjuangan. Ia selalu siap dan bersedia menjalankan tugas yang perlu untuk memajukan perjuangan revolusi demokratik.
Seorang revolusioner selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya. Baginya, prioritas pertama adalah menuntaskan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Ia menawarkan cara kerja yang bergairah dan teratur, tidak ceroboh, dan tergesa-gesa, asal-asalan dalam berjuang. Ia selalu belajar, menemukan cara mengatasi masalah, dan mengerjakan tugas-tugasnya sebaik yang bisa dilakukan.
Seorang revolusioner adalah pelopor yang dalam semangatnya dan hasrat yang meluap dalam perjuangan. Pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan seorang revolusioner maju kedepan, karena setiap tindakan dan langkah merupakan sumbangan bagi masa depan yang lebih cerah. Ia tidak merasa lemah dan gampang meyerah pada saat menghadapi masalah dan penderitaan dalam perjuangan. Semangat militannya selalu tinggi dan ia selalu siap untuk melawan. Ia selalu merebut dan menguasai kondisi-kondisi dan kesempatan-kesempatan dalam perjuangan revolusioner. Itulah sebabnya, mempunyai inisiatif merupakan tanda seorang yang revolusioner. Ia memiliki insiatif tidak saja dalam menuntaskan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, tetapi bahkan di dalam tugas-tugas yang lain ia berpikir perlunya perhatian segera.
Seorang revolusioner senantiasa siap memenuhi tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab. Ia menerima setiap tugas yang diberikan padanya, dan tidak menghitung ongkos dan beban, atau kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan yang harus dia lalui dalam mengerjakan tugas. Ia tidak memilih pekerjaanya karena pamrih kesenangan dan pujian bagi dirinya
3.Apakah sikap yang tepat terhadap penderitaan, pengorbanan dan kematian?
Seorang revolusioner mengakui fakta bahwa penderitaan, pengorbanan, dan kematian tidak dapat dicegah dalam membebaskan rakyat. Hal ini adalah alamiah dalam pertarungan keras antara rakyat dan kelas penguasa. Hal ini adalah alamiah dalam suatu revolusi menggulingkan imperialisme Amerika, sisa-sisa feodalisme dan kapitalis birokrat. Dan tidak saja alamiah, sebab hal-hal seperti ini diperlukan untuk merebut dan melindungi kepentingan rakyat dan revolusi. Ia adalah tabungan yang perlu untuk menghapuskan penindasan dan penghisapan, dan mendirikan sebuah masyarakat yang berlandaskan demokrasi yang sejati.
Seorang revolusioner siap menderita dan berkorban, dan bahkan mati demi perjuangan. Penderitaan seorang revolusioner adalah pantas karena ini demi kemenangan revolusi. Ia mengetahui bahwa segera kita menyaksikan fajar kemenangan yang telah lama kita tunggu. Ditengah-tengah bahaya dan penindasan, kesiapan untuk berkorban dan mati akan memberikan keteguhan dan keberanian kepada seorang revolusioner untuk memelihara dan berjuang untuk kepentingan rakyat dan revolusi.
Keberanian seorang revolusioner adalah sadar. Ia mencegah pengorbanan dan kematian yang tidak perlu. Ia tidak membahayakan dirinya sendiri hanya karena ia siap untuk mati. Ia melindungi hidupnya dan menjaga massa, kawan-kawan revolusionernya dan organisasi.
Agustus 11, 2008
Menakar Pergerakan Mahasiswa Aceh
Sejak masa sebelum kemerdekaan, masa orde lama, orde baru hingga zaman reformasi, pergerakan mahasiswa memang menjadi topik kajian yang menarik, khususnya bagi peneliti yang bergelut dalam ranah ilmu-ilmu sosial. Tak jarang dari beberapa pergerakan mahasiswa yang terjadi di negeri ini telah melahirkan sosok – sosok pemuda baru yang “berkarakter kuat�. Soe Hok Gie misalnya adalah seorang aktivis negeri ini yang berhasil menjadi figur/idola pada masanya. Begitu fenomenalnya sosok Soe Hok Gie sampai–sampai seorang sineas muda negeri ini berinisiatif menghidupkan kembali sosoknya dalam film layar lebar yang berjudul Gie.
Saya jadi teringat salah seorang teman wanita saya yang juga mantan aktivis mahasiswa yang sekarang berprofesi sebagai Staf Pengajar pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Aceh. Suatu ketika dalam sebuah acara seremonial dia menceritakan buku biografi Gie. Rupanya diam – diam dia termasuk salah satu pengagum Gie. Tapi yang menarik bagi saya bukanlah cerita tentang Soe Hok Gie, melainkan tentang model–model pergerakan mahasiswa dari masa Gie sampai sekarang. Teman saya itu menyimpulkan bahwa sesungguhnya pergerakan mahasiswa yang terjadi pada masa Gie saat ini kembali terulang di Indonesia dan khususnya di Aceh. Lalu sayapun berkata bahwa; “Pergerakan mahasiswa sama dengan fashion (model pakaian) yang temanya dapat berputar dari masa lalu walaupun ada sedikit pernak–pernik dan potongan yang sedikit bervariasi�. Teman saya ternyata setuju.
Apa dan bagaimana sesungguhnya gerakan mahasiswa Aceh saat ini hingga penulis terdahulu mengangkat kasus mahasiswa IAIN yang mendemo Rektor sebagai gejala anomali gerakan mahasiswa?.
Ada beberapa hal dalam tulisan Sahlan Hanafiah tersebut yang ingin saya kritisi. Saya dapat memahami apa maksud tersirat dan tersurat dari tulisan tersebut, namun karena sudut pandang yang berbeda sesuai dari latar belakang keilmuan saya dan Sahlan menyebabkan saya tergelitik untuk mengkritisinya.
Pertama, Sahlan mengatakan bahwa mahasiswa telah kehilangan rasa percaya diri dengan kehadiran lembaga–lembaga yang lebih “mentereng� di Aceh. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena jika itu yang terjadi semestinya sampai hari ini kita tidak lagi melihat sejumlah spanduk kegiatan yang dilaksanakan oleh sejumlah lembaga mahasiswa. Kegiatan–kegiatan tersebut walaupun tidak bersifat radikal, namun namun cukup memberi petunjuk bahwa gerakan mahasiswa belum mati.
Fenomena yang terjadi sekarang justru lembaga–lembaga mahasiswa belum memperoleh perhatian maksimal dari sejumlah lembaga asing dan juga BRR. Pengalaman Penulis ketika mengikuti salah satu forum yang diselenggarakan salah satu LSM lokal di Aceh bahwa ada seorang mahasiswa wakil dari lembaga UKM pencinta lingkungan Unsyiah yang menceritakan sejumlah kegiatan yang berfokus pada lingkungan yang telah mereka lakukan secara mandiri--semula mereka sempat mengajukan proposal ke lembaga asing namun hasilnya ditolak.
Fakta yang lain, ketika suatu proyek sudah menang tender, maka lembaga mahasiswa juga kerap ditinggalkan oleh lembaga diluar kampus yang mengajak mereka untuk berkolaborasi dalam suatu proyek, padahal pada saat melakukan proses need dan assessment mahasiswa justru dilibatkan. Selanjutnya ketika Penulis menghadiri kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga mahasiswa namun anehnya semua narasumber plus keynote speakernya berhalangan hadir dan semuanya diwakilkan. Selain itu juga tak ada satupun wakil dari lembaga asing yang diundang oleh panitia untuk menghadiri acara tersebut. Fakta ini membuat Penulis kembali membatin, apakah semua ini terjadi karena yang menyelenggarakan kegiatan adalah lembaga mahasiswa yang notabene kurang mentereng atau karena sebab lain. Fenomena ini sangat jarang penulis temui sebelum tsunami melanda Aceh. Artinya, masih ada sejumlah faktor lain yang perlu kita kaji.
Kedua, pendapat bahwa saat ini aktivis mahasiswa terbagi dalam dua kelompok, satu berhaluan kanan dan yang lainnya berhaluan kiri, dimana kelompok yang berhaluan kanan tidak mampu membaca realitas sosial, seakan–akan gerakan mereka hanya sebatas gerakan dalam taraf “aman� dalam pandangan 'pihak-pihak tertentu'. Sedangkan kelompok yang berhaluan kiri yang dikatakan mampu membaca realitas sosial menjadi kelompok yang bersifat oposan dan bercitra “negatif� dalam pandangan pihak–pihak tertentu pula. Dalam hal ini Penulis berpendapat bahwa memang benar ada kelompok–kelompok mahasiswa atau organisasi mahasiswa yang belum memiliki 'keterampilan' membaca realitas sosial dan sebaliknya.
Menggolongkan mereka kedalam dua kelompok sah–sah saja, namun menurut saya perlu adanya peninjauan kembali ketika kelompok mahasiswa/organisasi mahasiswa itu disebut sebagai haluan kanan dan kiri. Karena kata–kata 'kanan' dan 'kiri' kerap mencitrakan arti yang berbeda. "kanan" bisa disebut kelompok yang lurus-lurus saja kendati ada juga yang 'bengkok', sedangkan 'kiri' jelas-jelas menunjuk kelompok yang berimage negatif.
Aliran Freirerian yang merujuk pada sistem pengajaran Paulo Freire, justru menekankan pada pentingnya kemampuan membaca realitas sosial yang disebut Freire sebagai kemampuan membaca tanda–tanda alam. Maknanya, peserta didik yang mampu membaca realitas sosial adalah peserta didik yang berkualitas dan sebaliknya. Dalam hal ini dimanakah sesungguhnya haluan kanan itu berada dan dimanakah posisi haluan kiri? atau jangan–jangan yang terjadi pada aktivis mahasiswa Aceh sekarang adalah sebaliknya haluan kanan yang tidak peka terhadap realitas sosial yang semestinya menjadi haluan kiri (disini kita menjadi apriori). Maka dalam kasus ini penting bagi kita untuk dapat melihat secara objektif, karena pada intinya tak ada seorangpun yang dirinya dicitrakan negatif.
Ketiga, saudara Muhammad Sahlan Hanafiah mengatakan, bahwa ketika mahasiswa mengkritik isu–isu seperti kebijakan rektorat seperti yang terjadi di IAIN ini adalah isu–isu kecil. Bagi saya, mendemo kebijakan rektorat juga termasuk bagian dari isu–isu besar dan berdampak besar walaupun masih dalam tataran internal kampus. Implikasinya bagi rakyat Aceh masih memakan waktu yang lama, konkritnya jika mahasiswa Aceh mampu menjadi transformator bagi kampusnya sendiri maka bukan tidak mungkin suatu saat ketika sang mahasiswa telah bekerja dan menduduki posisi strategis di pemerintahan maupun sebagai tokoh masyarakat diapun sudah terbiasa dan merasa pede untuk melakukan perubahan. Jika saya memflashback pengalaman dulu ketika masih menjadi mahasiswa dan mengkritisi kebijakan akademik fakultas saja sangat sulit, apalagi mental untuk mengkritisi kebijakan rektorat. saya sependapat bahwa mahasiswa Aceh harus kritis terhadap fenomena sosial masyarakat yang sedang terjadi di Aceh saat ini dan dapat meresponnya dalam bentuk aksi nyata di lapangan.
Keempat, saya sepakat dengan Sahlan bahwa mahasiswa kita sekarang kurang memiliki kemampuan membaca dan mengikuti proses perubahan sosial yang drastis di Aceh. Akan tetapi kita juga perlu ingat bahwa mahasiswa kita selama ini cenderung disentuh dengan sistem pengajaran yang bersifat membelenggu ide–ide kreatif. Saya katakan membelenggu karena model pengajaran yang ada di kampus masih bersifat “mendikte� dalam tataran sempit maupun dalam tataran luas. Sehingga tak heran jika mahasiswa Aceh pun menjadi malas membaca. Buat apa membaca banyak buku kalau dosen saja hanya berpatokan pada buku–buku kuno tertentu. Jadi kuasai saja buku itu kemudian nilai A pasti ditangan, celutuk seorang mahasiswa di kantin. Mahasiswa kita masih berorientasi nilai, bukan proses dan bukan pemahaman serta penguasaan konsep.
Mahasiswa kita juga dicap malas mengikuti perubahan, mungkin ada benarnya mungkin juga tidak. Pada suatu hari ketika saya sedang mengajar, beberapa mahasiswa minta agar saya mendikte saja agar konsep dapat diterjemahkan dengan jelas. Usut punya usut ternyata mahasiswa khawatir nanti bagaimana cara menjawab soal ujian kalau tidak dapat menghafal dengan baik (penulis kaget sekali dengan “karakter� mahasiswa seperti ini). Hal ini terjadi karena mahasiswa kita telah terbiasa dan mungkin karena dibiasakan dengan sesuatu yang bersifat praktis dan instan, tak perlu menganalisa, hafal saja!. Sistem pengajaran perlu diperbaiki jika kita ingin menciptakan mahasiswa yang kritis, peka dan mampu membaca realitas sosial yang ada.
PR kita kedepan adalah bukan sekedar anomali gerakan mahasiswa, namun bagaimana mahasiswa mampu menjadi agent of change pada lingkungan kampus dan masyarakat. Untuk ini dibutuhkan perhatian dari para mantan– mantan aktivis mahasiswa untuk mau kembali merangkul adik–adik aktivis yang sesungguhnya haus akan pencerahan dan bimbingan. Jika sejarah dapat terulang kembali, mengapa kita enggan untuk belajar dari sejarah itu sendiri?. (Monalisa | www.acehinstitute.org)
Saya jadi teringat salah seorang teman wanita saya yang juga mantan aktivis mahasiswa yang sekarang berprofesi sebagai Staf Pengajar pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Aceh. Suatu ketika dalam sebuah acara seremonial dia menceritakan buku biografi Gie. Rupanya diam – diam dia termasuk salah satu pengagum Gie. Tapi yang menarik bagi saya bukanlah cerita tentang Soe Hok Gie, melainkan tentang model–model pergerakan mahasiswa dari masa Gie sampai sekarang. Teman saya itu menyimpulkan bahwa sesungguhnya pergerakan mahasiswa yang terjadi pada masa Gie saat ini kembali terulang di Indonesia dan khususnya di Aceh. Lalu sayapun berkata bahwa; “Pergerakan mahasiswa sama dengan fashion (model pakaian) yang temanya dapat berputar dari masa lalu walaupun ada sedikit pernak–pernik dan potongan yang sedikit bervariasi�. Teman saya ternyata setuju.
Apa dan bagaimana sesungguhnya gerakan mahasiswa Aceh saat ini hingga penulis terdahulu mengangkat kasus mahasiswa IAIN yang mendemo Rektor sebagai gejala anomali gerakan mahasiswa?.
Ada beberapa hal dalam tulisan Sahlan Hanafiah tersebut yang ingin saya kritisi. Saya dapat memahami apa maksud tersirat dan tersurat dari tulisan tersebut, namun karena sudut pandang yang berbeda sesuai dari latar belakang keilmuan saya dan Sahlan menyebabkan saya tergelitik untuk mengkritisinya.
Pertama, Sahlan mengatakan bahwa mahasiswa telah kehilangan rasa percaya diri dengan kehadiran lembaga–lembaga yang lebih “mentereng� di Aceh. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena jika itu yang terjadi semestinya sampai hari ini kita tidak lagi melihat sejumlah spanduk kegiatan yang dilaksanakan oleh sejumlah lembaga mahasiswa. Kegiatan–kegiatan tersebut walaupun tidak bersifat radikal, namun namun cukup memberi petunjuk bahwa gerakan mahasiswa belum mati.
Fenomena yang terjadi sekarang justru lembaga–lembaga mahasiswa belum memperoleh perhatian maksimal dari sejumlah lembaga asing dan juga BRR. Pengalaman Penulis ketika mengikuti salah satu forum yang diselenggarakan salah satu LSM lokal di Aceh bahwa ada seorang mahasiswa wakil dari lembaga UKM pencinta lingkungan Unsyiah yang menceritakan sejumlah kegiatan yang berfokus pada lingkungan yang telah mereka lakukan secara mandiri--semula mereka sempat mengajukan proposal ke lembaga asing namun hasilnya ditolak.
Fakta yang lain, ketika suatu proyek sudah menang tender, maka lembaga mahasiswa juga kerap ditinggalkan oleh lembaga diluar kampus yang mengajak mereka untuk berkolaborasi dalam suatu proyek, padahal pada saat melakukan proses need dan assessment mahasiswa justru dilibatkan. Selanjutnya ketika Penulis menghadiri kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga mahasiswa namun anehnya semua narasumber plus keynote speakernya berhalangan hadir dan semuanya diwakilkan. Selain itu juga tak ada satupun wakil dari lembaga asing yang diundang oleh panitia untuk menghadiri acara tersebut. Fakta ini membuat Penulis kembali membatin, apakah semua ini terjadi karena yang menyelenggarakan kegiatan adalah lembaga mahasiswa yang notabene kurang mentereng atau karena sebab lain. Fenomena ini sangat jarang penulis temui sebelum tsunami melanda Aceh. Artinya, masih ada sejumlah faktor lain yang perlu kita kaji.
Kedua, pendapat bahwa saat ini aktivis mahasiswa terbagi dalam dua kelompok, satu berhaluan kanan dan yang lainnya berhaluan kiri, dimana kelompok yang berhaluan kanan tidak mampu membaca realitas sosial, seakan–akan gerakan mereka hanya sebatas gerakan dalam taraf “aman� dalam pandangan 'pihak-pihak tertentu'. Sedangkan kelompok yang berhaluan kiri yang dikatakan mampu membaca realitas sosial menjadi kelompok yang bersifat oposan dan bercitra “negatif� dalam pandangan pihak–pihak tertentu pula. Dalam hal ini Penulis berpendapat bahwa memang benar ada kelompok–kelompok mahasiswa atau organisasi mahasiswa yang belum memiliki 'keterampilan' membaca realitas sosial dan sebaliknya.
Menggolongkan mereka kedalam dua kelompok sah–sah saja, namun menurut saya perlu adanya peninjauan kembali ketika kelompok mahasiswa/organisasi mahasiswa itu disebut sebagai haluan kanan dan kiri. Karena kata–kata 'kanan' dan 'kiri' kerap mencitrakan arti yang berbeda. "kanan" bisa disebut kelompok yang lurus-lurus saja kendati ada juga yang 'bengkok', sedangkan 'kiri' jelas-jelas menunjuk kelompok yang berimage negatif.
Aliran Freirerian yang merujuk pada sistem pengajaran Paulo Freire, justru menekankan pada pentingnya kemampuan membaca realitas sosial yang disebut Freire sebagai kemampuan membaca tanda–tanda alam. Maknanya, peserta didik yang mampu membaca realitas sosial adalah peserta didik yang berkualitas dan sebaliknya. Dalam hal ini dimanakah sesungguhnya haluan kanan itu berada dan dimanakah posisi haluan kiri? atau jangan–jangan yang terjadi pada aktivis mahasiswa Aceh sekarang adalah sebaliknya haluan kanan yang tidak peka terhadap realitas sosial yang semestinya menjadi haluan kiri (disini kita menjadi apriori). Maka dalam kasus ini penting bagi kita untuk dapat melihat secara objektif, karena pada intinya tak ada seorangpun yang dirinya dicitrakan negatif.
Ketiga, saudara Muhammad Sahlan Hanafiah mengatakan, bahwa ketika mahasiswa mengkritik isu–isu seperti kebijakan rektorat seperti yang terjadi di IAIN ini adalah isu–isu kecil. Bagi saya, mendemo kebijakan rektorat juga termasuk bagian dari isu–isu besar dan berdampak besar walaupun masih dalam tataran internal kampus. Implikasinya bagi rakyat Aceh masih memakan waktu yang lama, konkritnya jika mahasiswa Aceh mampu menjadi transformator bagi kampusnya sendiri maka bukan tidak mungkin suatu saat ketika sang mahasiswa telah bekerja dan menduduki posisi strategis di pemerintahan maupun sebagai tokoh masyarakat diapun sudah terbiasa dan merasa pede untuk melakukan perubahan. Jika saya memflashback pengalaman dulu ketika masih menjadi mahasiswa dan mengkritisi kebijakan akademik fakultas saja sangat sulit, apalagi mental untuk mengkritisi kebijakan rektorat. saya sependapat bahwa mahasiswa Aceh harus kritis terhadap fenomena sosial masyarakat yang sedang terjadi di Aceh saat ini dan dapat meresponnya dalam bentuk aksi nyata di lapangan.
Keempat, saya sepakat dengan Sahlan bahwa mahasiswa kita sekarang kurang memiliki kemampuan membaca dan mengikuti proses perubahan sosial yang drastis di Aceh. Akan tetapi kita juga perlu ingat bahwa mahasiswa kita selama ini cenderung disentuh dengan sistem pengajaran yang bersifat membelenggu ide–ide kreatif. Saya katakan membelenggu karena model pengajaran yang ada di kampus masih bersifat “mendikte� dalam tataran sempit maupun dalam tataran luas. Sehingga tak heran jika mahasiswa Aceh pun menjadi malas membaca. Buat apa membaca banyak buku kalau dosen saja hanya berpatokan pada buku–buku kuno tertentu. Jadi kuasai saja buku itu kemudian nilai A pasti ditangan, celutuk seorang mahasiswa di kantin. Mahasiswa kita masih berorientasi nilai, bukan proses dan bukan pemahaman serta penguasaan konsep.
Mahasiswa kita juga dicap malas mengikuti perubahan, mungkin ada benarnya mungkin juga tidak. Pada suatu hari ketika saya sedang mengajar, beberapa mahasiswa minta agar saya mendikte saja agar konsep dapat diterjemahkan dengan jelas. Usut punya usut ternyata mahasiswa khawatir nanti bagaimana cara menjawab soal ujian kalau tidak dapat menghafal dengan baik (penulis kaget sekali dengan “karakter� mahasiswa seperti ini). Hal ini terjadi karena mahasiswa kita telah terbiasa dan mungkin karena dibiasakan dengan sesuatu yang bersifat praktis dan instan, tak perlu menganalisa, hafal saja!. Sistem pengajaran perlu diperbaiki jika kita ingin menciptakan mahasiswa yang kritis, peka dan mampu membaca realitas sosial yang ada.
PR kita kedepan adalah bukan sekedar anomali gerakan mahasiswa, namun bagaimana mahasiswa mampu menjadi agent of change pada lingkungan kampus dan masyarakat. Untuk ini dibutuhkan perhatian dari para mantan– mantan aktivis mahasiswa untuk mau kembali merangkul adik–adik aktivis yang sesungguhnya haus akan pencerahan dan bimbingan. Jika sejarah dapat terulang kembali, mengapa kita enggan untuk belajar dari sejarah itu sendiri?. (Monalisa | www.acehinstitute.org)
Label:
Materi Organisasi
Langganan:
Postingan (Atom)
