April 24, 2009

Diduga OPM, 2 Warga Papua Ditangkap di NTT

KUPANG - Aparat kepolisian di Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menangkap dua warga yang diduga anggota jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM), saat menumpang sebuah bus dari Atambua, Kabupaten Belu menuju Kupang. Kehadiran dua warga Papua ini, diduga untuk membeli senjata api peninggalan Timor Timur yang masih banyak beredar di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Kepala Bidang Humas Polda NTT Kompol Okto G Riwu yang dihubungi di Kupang, Rabu (22/4/2009) mengatakan, kedua warga asal Papua tersebut ditangkap di sebuah rumah makan di Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, 230 kilometer arah Atambua, Selasa 21 April kemarin. Belum diketahui apakah polisi berhasil menyita barang bukti senjata api, namun dari tangan kedua orang tersebut, polisi mengamankan uang tunai sebesar Rp90 juta. Hingga kini, polisi masih menyelidiki misi kedua warga tersebut. Menurut Okto, aparat masih terus melakukan penyelidikan, apakah keduanya terlibat dalam jaringan OPM, yang ingin melepaskan diri dari Indonesia."Proses penyelidikan masih berjalan.

Apakah mereka ke Timor Barat untuk membeli senjata api, atau untuk kegiatan yang lain. Semuanya masih diselidiki. Saat ini, kedua warga telah diamankan di Polda NTT," ujar Okto. Kapolres Timor Tengah Selatan, AKBP Suprianto yang dihubungi terpisah mengatakan, dua warga Papua berinisial JJ dan FM tersebut ditangkap atas perintah Kapolda NTT. "Keduanya ditangkap saat bus yang ditumpangi berhenti dan makan siang di sebuah rumah makan," kata Suprianto. Dari hasil penyelidikan sementara, menurut Suprianto, kedua warga tersebut ke Atambua untuk membeli senjata api. JJ berasal dari Kecamatan Paiae, Kabupaten Enaro Tali, Jayapura, sedangkan FM, adalah warga Kabupaten Belu, yang pernah bekerja di salah satu tambang emas di Papua. (teb)

Sumber : okezone.com

April 22, 2009

Bupati Lukas Enembe Paksa Warga Puncak Jaya Setujui Pemboman Markas Goliath Tabuni

Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe sejak Sabtu (18/04) kemarin, memaksa warga Puncak Jaya untuk membuat pernyataan yang isinya meminta Mabes TNI untuk melepas bom di beberapa titik yang diketahui sebagai basis-basis pertahanan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) pimpinan Gen. Goliath Tabuni.
Titik-titik pertahanan TPN-PB berhasil dipantau melalui fasilitas Google Earth dan Signal HP melalui komunikasi khusus antara seorang mata-mata Deputy V BIN dengan seorang staf Goliath Tabuni yang berhasil diperdaya oleh sang mata-mata.
Mata-mata tersebut berkomunikasi langsung dari Markas Pusat BIN (Badan Intelijen Negara) dan berbagai peralatan canggih dipakai untuk mendeteksi keberadaan Goliath Tabuni.
Bahkan, beberapa agen BIN, melalui usaha mata-mata ini, beberapa bulan lalu hampir lolos masuk ke Markas TPN-PB dengan menyamar sebagai aktivis Amnesty International asal Indonesia.
Setelah sukses melakukan pemetaan, selanjutnya dicari alasan untuk melegalkan pemboman. Disinilah Lukas Enembe langsung memainkan perannya sebagai Kepala BIN Wilayah Pegunungan Tengah dengan memaksa warga-nya membuat pernyataan yang isinya meminta dan mendukung pemboman markas TPN-PB.
Langkah ini juga terpaksa ditempuh karena TNI-Polri mengalami kesulitan dalam berhadapan dengan TPN-PB di wilayah ini. Penyebab utamanya adalah beratnya medan dan dukungan rakyat setempat yang sepenuhnya terhadap TPN-PB.
Penyebab lainnya adalah karena peralatan militer yang seimbang, khususnya dalam hal senapan serbu. Kedua pihak memiliki senapan berjenis sama : M-16, FNC, AK-47 dan SS-1.
Fakta membuktikan, TNI-Polri selalu berpikir seribu kali sebelum melakukan patroli di sekitar Mulia. Dari pantauan Blogsite ini, mereka hanya berkeliaran di sekitar kota Mulia sambil mengintimidasi dan mengejar masyarakat sipil yang mereka tuduh sebagai OPM. Hampir semua distrik dikuasai oleh TPN-PB.
Jubir Komando Tertinggi Militer Revolusi Papua Barat (KTMRPB), Iringgame Tabuni ketika dihubungi Blogsite ini menyayangkan sikap Enembe yang terkesan pengecut. “Sulit dibayangkan, sikap Anak Koteka yang satu ini, pengecut betul,” komentarnya singkat.
Sampai berita ini dilaporkan, Kaki-Tangan Enembe yang diback-up TNI-Polri terus bergerak ke basis-basis masyarakat dan menghasut mereka agar meminta Mabes TNI secepatnya melakukan pemboman.
Menurut rencana, permintaan warga yang direkayasa itu akan dituangkan dalam sebuah Pernyataan Sikap yang konsepnya sudah disiapkan. Pernyataan rekayasa tersebut direncanakan akan disampaikan dalam sebuah upacara ikrar kesetiaan terhadap NKRI-Pancasila-UUD 1945 dan Otsus bertempat di lapangan terbuka.
Lebih parah lagi, ribuan lembar bendera Merah-Putih berukuran besar yang menyerupai selimut dikabarkan telah disiapkan untuk membalut setiap tubuh warga yang direkayasa. ***